<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012</id><updated>2011-04-21T10:54:46.478-07:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Mungkin Puisi'/><category term='Gambar'/><category term='Feature'/><category term='Cerpen'/><title type='text'>da Sidhey- Agam Meutuah Dalam Cita-cita</title><subtitle type='html'>Nanggroe Acheh</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://atadere.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-5331264923177171059</id><published>2008-08-21T23:17:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T23:41:13.841-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Geulayang Lon Manyang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SK5aouHzgVI/AAAAAAAAAEg/WyN14E_824I/s1600-h/Layang_IMG_4083.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SK5aouHzgVI/AAAAAAAAAEg/WyN14E_824I/s400/Layang_IMG_4083.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237223072300499282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Teks : Arif Surahman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Foto  : Abdul Kadir Jailani&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; Pada hamparan sawah kering di Lampermai Cot Irie, sebuah tradisi lama terekam. Geulayang itu dilepas, lalu terbang mencari lawan, menentukan juara. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Penarik layang-layang sudah bersiap, siaga satu. Tangan mereka terjulur memegang ujung benang yang terentang dari layang-layang. Geulayang Tunang, sebuah tradisi lomba layang-layang akan dimulai, seorang juri memberi aba-aba. “Tempoe buet ka dimulai!” Teriak juri dari pengeras suara. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Tempoe buet adalah aba-aba untuk menaikkan layang-layang. Juri memberikan limit waktu selama 10 menit untuk tahap ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geulayang melesat terbang, angin yang berhembus kencang tidak sulit bagi layang-layang beradu cepat melesat ke udara. Ada 28 layang yang melenggang-lenggok ke kiri dan ke kanan. Menghias langit yang mulai mendung pada Jumat sore, 25 Juli 2008 di Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu hanya 28 layang peserta pada Geulayang Tunang. Setiap satu layang-layang ditangani oleh tiga hingga lima orang, mereka melakukan kerja secara tim dengan baik untuk menerbangkan geulayang. Tidak sampai 10 menit, semua layang-layang telah mengudara, namun juri tetap menunggu sisa empat menit sebelum melanjutkan tahap mengulur benang. Untuk tahap ini, tempo yang diberikan juga 10 menit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpacu mengulur benang adalah tahapan paling seru. Layang yang lebih ringan mudah menarik benang. Benang yang lepas menimbulkan bunyi berdesing. Seorang membantu menjaga kumparan benang agar tak tersangkut, yang lain memegang kumparan yang terbuat dari kayu. Pengendali menjaga layang-layang agar tidak menyelip dan bertabrakan dengan layang-layang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir dari tahapan yang harus dilalui adalah tempoe cok pleh untuk menentukan pemenang oleh panitia. Juri akan memberi perintah kepada semua peserta untuk menuju tempat penganjungan. Mereka berjalan sepanjang bidang sawah, ke sebuah garis yang dibuat dari rentangan seutas tali. Limit waktu untuk tahap ini adalah tiga menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah, tahap penentuan dilakukan. Setelah semua peserta berkumpul berjejer mengikuti garis tali, juri mulai menghitung melalui pengeras suara. Tiga orang juri mengamati ke layang-layang di langit itu dengan seksama. Bukan pekerjaan yang mudah. Karena di ketinggian sekitar 900 meter,  layang-layang itu seperti sama saja tingginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Geulayang adalah sebuah hobby yang berawal dari tradisi lama, semenjak Aceh masih dipimpin raja-raja. Sore itu juga untuk hiburan, bukan ajang taruhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nazar, seorang peserta menyebut itu hanya menyalurkan sebuah hobby, sama seperti pemain bola ikut turnamen. “Saya memang suka bermain layang-layang, jadi ini hanya hiburan. Acara seperti ini sudah sering sekali di tempat kami,” sebutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Jamil, Panitia sekaligus salah seorang juri menyebut, untuk menambah semangat peserta, yang menang diberikan hadiah berupa rokok. Untuk membeli hadiah itu, peserta yang ikut lomba diwajibkan mendaftar sejumlah uang. “Ini hanya untuk hiburan bagi warga,” sebutnya. Bahkan bisa membina hubungan kekeluargaan antar sesama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamil ada juri dan harus ahli. Matanya tajam memandang langit. Di sana 28 layang meliuk-liuk diterpa angin, dia beserta seorang rekannya harus menentukan siapa sang jawara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Sebuah layang-layang warna hijau terpisah lebih ke depan. Layang-layang yang satu ini nyaris tegak tali. Terbangnya pun tenang. Juri hampir saja memutuskan layang-layang hijau itu sebagai juara, namun ada peserta lain yang protes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geulayang hijau tidak memenuhi syarat sebagai pemenang. Layang-layang tersebut tidak mencapai ketinggian 800 meter, benangnya terlalu pendek. Tidak ada tanda batas serupa kain hijau yang dipasang panitia di sana. Hal ini diakui pemiliknya. &lt;br /&gt;Tempoe cok pleh diulang kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamil, kembali menatap ke langit mengamati layang-layang. Lelaki paruh baya itu mencari geulayang yang melesat lebih ke depan. Lalu didapat, sebuah layang bergambar kartu AS joker warna merah muncul condong ke depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamil langsung menunjuk Hantan Saga Ikupang, nama layang-layang Milik Nazar dari Desa Meunasah Mayang sebagai juara. Di nomor dua, ada Datok Maringgih milik Samsuddin. Tidak ada yang protes terhadap keputusan Jamil itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Semua peserta mulai menurunkan layang mereka, hujan mulai jatuh dalam rintik-rintik kecil. Geulayang Tunang akan dibuka kembali esok sore dan selanjutnya, untuk  merawat tradisi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Geulayang Tunang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;By Adi Warsidi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Geulayang Tunang adalah sebuah lomba layang-layang yang merupakan permainan tradisional di Aceh. Permainan itu telah lama ada di bumi serambi, sejak masa raja-raja memimpin Aceh abad ke-14. Biasanya dimainkan oleh rakyat biasa dengan dukungan kerajaan.     &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt; Adu layang diselenggarakan pada waktu-waktu besar; sehabis panen raya, peringatan hari besar sampai pada sebuah pesta budaya dan pesta rakyat. Biasanya diadakan di sebuah lapangan atau persawahan. Permainan Geulayang Tunang murah, dan sangat digemari oleh warga pada berbagai daerah Aceh. Ada juga yang menyebutnya Adud Geulayang. Pada zaman dahulu permainan ini diselenggarakan sebagai pengisi waktu, yang bertujuan untuk menghibur. Sebuah tradisi ini tetap dipelihara warga sampai sekarang. Bahkan pemerintah dalam even tertentu, juga memfasilitasi Geulayang Tunang. Misalnya saat perhelatan Diwana Cakradonya di Banda Aceh, April 2008 lalu.   Geulayang Tunang adalah sebuah tradisi, sebuah budaya yang telah ada sejak lama. [] &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-5331264923177171059?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/5331264923177171059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/5331264923177171059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/08/geulayang-lon-manyang.html' title='Geulayang Lon Manyang'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SK5aouHzgVI/AAAAAAAAAEg/WyN14E_824I/s72-c/Layang_IMG_4083.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-8985283222897737641</id><published>2008-08-18T07:31:00.000-07:00</published><updated>2008-08-18T07:46:28.231-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Nek Kiah Maknai Kemerdekaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SKmKCRL8cyI/AAAAAAAAAEQ/CYvTIeF_dNQ/s1600-h/Foto+Feature-Panjat+Pinang+1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SKmKCRL8cyI/AAAAAAAAAEQ/CYvTIeF_dNQ/s400/Foto+Feature-Panjat+Pinang+1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235867813372785442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Otot lengan Ramlan membengkak, tangannya kuat merangkul pohon pinang yang telah dilemuri oli. Di atas bahu pria 25 tahun itu,  bertumpu empat orang lain yang membentuk tangga manusia. Bendera merah putih di puncak pohon pinang melambai dihembus angin, karton-karton bertuliskan aneka hadiah juga ikut bergoyang pada lingkaran yang tebuat dari bambu. &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Azan ashar baru saja usai berkumandang dari menara Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Sore itu, Senin 18 Agustus 2008, perhelatan perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke 63 digelar dengan ragam permainan di tepi Krueng Aceh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Panjat pinang menjadi permainan pembuka dalam perayaan kemerdekaan hari itu. Delapan orang asal Lamteh, Ulee Kareng Banda Aceh menjadi kelompok pertama yang akan memanjat pohon pinang yang telah berwarna hitam dilumuri gemuk. Kelompok ini berhasil menggapai puncak dan membawa turun bendera. Keberhasilan itu dihargai Rp750 ribu dari sponsor.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Selanjutnya panjat pinang menjadi  tontonan yang sangat meriah, sorak dan tepuk tangan riuh keluar dari ratusan orang yang mengerumuni tepi Krueng Aceh. “Ayo, ayo… Tahan!” Teriak penonton memberi semangat kepada kelompok panjat pinang dari pedagang pasar Aceh. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;Pondasi manusia yang dibangun para pedagang itu goyang dan ambruk. Penonton tertawa saat kelompok tersebut meutumpok (bertindihan) di bawah pohon pinang yang mereka panjat. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Ramlan hanya menyengir dan mengajak kawannya membuat kembali pondasi, dia berada di bagian paling bawah untuk dipanjat kawan yang lain. Dalam panjat pinang, orang-orang harus mengorbankan tubuh mereka untuk diinjak kawan se tim, kemenangan adalah pencapaian puncak dan memungut hadiah yang disediakan panitia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Selain masyarakat kota yang ikut menyaksiakan perhelatan kemerdekaan, puluhan pedagang juga menjajakan dagangan di lokasi itu. Ibu Kiah, penjual jomblang pada sore itu tidak begitu memperhatikan antusias penonton. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Ibu setengah baya itu duduk lesu, keranjang di depannya masih terisi biji-biji hitam yang tidak banyak berkurang. Sesekali, suara seraknya menawarkan pembeli untuk mendekat. “Hana muphom ulon kemerdekaan nyan/ Tidak mengerti saya arti kemerdekaan itu,” jawab ibu Kiah pendek. Tangan keriputnya kembali memasukkan biji  jomblang dalam kaleng susu bekas yang dijadikan sebagai pengukur. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Juliamin, penjual boneka masih bisa memaknai kemerdekaan, “Kita tidak terjajah lagi oleh Belanda,” kata lelaki itu. Dia mengaku tidak bisa membayangkan jika hingga saat sekarang Belanda masih menjajah Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;Lelaki itu punya mimpi untuk bisa berjualan di toko. “Pemerintah agar meningkatkan perekonomian rakyat,” harap Juli. Sementara ibu Kiah tidak mengharap banyak, “Yang penteng jeut tamita raseki haleu ngon teunang/Yang penting bisa mencari rezeki halal dengan tenang.” &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Harapan ibu Kiah sangat sederhana, kemerdekaan bagi ibu tua itu adalah kebebasan berbuat dalam menjalani hidup. Dengan menjadi penjual biji jamblang musiman, dia bisa membantu meringankan suami yang bekerja sebagai pelaut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Senja menutup perhelatan itu, sayup-sayup terdengar suara orang membacakan ayat suci Al-Quran. Orang-orang bubar, panitia mengucapkan sampai jumpa tahun depan, pada hari kemerdekaan selanjutnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Arif Surahman 4 Aceh Independen&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-8985283222897737641?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/8985283222897737641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/8985283222897737641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/08/nek-kiah-maknai-kemerdekaan.html' title='Nek Kiah Maknai Kemerdekaan'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SKmKCRL8cyI/AAAAAAAAAEQ/CYvTIeF_dNQ/s72-c/Foto+Feature-Panjat+Pinang+1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-1311346997937917338</id><published>2008-08-09T00:01:00.001-07:00</published><updated>2008-08-09T00:22:33.900-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Malam di Kota Bandar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SJ1FDwPRl6I/AAAAAAAAAD0/qWrAturPEVQ/s1600-h/DSC00009.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SJ1FDwPRl6I/AAAAAAAAAD0/qWrAturPEVQ/s400/DSC00009.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232414272865277858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Senja baru rebah di kota Bandar, ibu kota Pemerintah Aceh.  Jumat lalu, 1 Agustus 2008, suasana sesak terlihat di sepanjang ruas jalan Tgk Daud Beureueh hingga TA Mahmudsyah. Mobil-mobil merangkak pelan di antara sepeda motor. Akhir pekan, jalan-jalan utama kota Banda Aceh selalu sesak.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daud Beereueh tidak istirahat, selepas gaung azan magrib dari menara Mesjid Raya Baiturrahman, dentuman musik keluar dari sound-sound kedai tengger penjual burger . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah rindang pohon jalan, lampu neon selaksa warna menjadi penghias sendiri, menghibur sejumlah pemuda yang sedang berkumpul. “Malam Sabtu hingga Minggu memang selalu ramai,” kata Arif Hidayat, pemilik warung H &amp;amp; D Burger. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arif belum lama bergelut dalam bisnis burger, pemuda itu tertarik mencoba bisnis makanan khas dari Amerika Serikat itu setelah mendapat tawaran dari seorang kawan. “Ini bisa kerja part time, saya buka mulai jam 17.30 hingga pukul 00.00 WIB,” cerita Arif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada Jumat malam itu, sound system milik Arif mandek, musik tidak berdentum, sehingga hanya beberapa pasangan saja yang terlihat sedang berbincang mesra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain H &amp;amp; D Burger, sejumlah otlet burger lain juga berjejer di sepanjang jalan yang namanya diambil dari tokoh kharismatik dan pejuang Aceh, Tgk Muhammad Daud di Bereueh. kebanyakan pelanggan di kedai-kedai tengger itu adalah anak muda usia sekolah hingga mahasiswa. “Masing-masing sudah punya pelanggan sendiri,” kata Oki, dari Obelix Burger. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Banda Aceh, warung-warung burger tersebar di sejumlah tempat. Selain di Jalan Daud Beureueh, Nyak Adam Kamil, T Nyak Arief, beberapa ruas jalan di Keutapang, Lamlagang, Beurawe, Darussalam hingga Ulee Kareng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga burger berkisar dari Rp5000 hingga Rp12 ribu. Selain burger, menu lain juga ditawarkan seperti omelet, roti bakar dan sosis dengan minuman botol dan kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedai burger menjadi tempat hiburan alternatif, selain ajang mencari pasangan atau berpacaran. “WH (Wilayatul Hisbah -red) tidak menangkap orang pacaran di sini, sebab suasana tempatnya ramai," ujar Evi, pelajar salah satu SMU di Banda Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muda di Kota Bandar memang haus hiburan. Sejak pemerintah menerapkan syariat Islam di Aceh, ruang gerak masyarakat dalam mencari hiburan ala metropolitan praktis tidak tersedia. Tidak ada diskotek atau bar di Aceh. Tempat-tempat hiburan yang disediakan beberapa pusat perbelanjaan tidak mencukupi. “Di Aceh tidak ada tempat hiburan, kita kadang suntuk tak tahu ke mana,” kata Fajar, kekasih Evi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bioskop-bioskop juga praktis tutup sejak tahun 2000 lalu. Mereka yang haus hiburan tapi bermodal banyak, lebih suka mencari hiburan dan membelanjakan uangnya di kota Medan atau Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda Aceh yang ingin gaul dan melepaskan penat cukup kongkow bersama teman atau kerabat di kedai yang tersebar di pinggiran jalan. Buktinya, tak sedikit kalangan muda termasuk yang masih duduk di bangku sekolah atau ABG, memilih kedai burger sebagai tempat bergaul dan bercerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Mengisi masa remaja yang konon indah di kota penat, di mana penduduknya tak punya pilihan, menentukan hiburan akhir pekan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Arif Surahman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-1311346997937917338?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/1311346997937917338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/1311346997937917338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/08/malam-di-kota-bandar.html' title='Malam di Kota Bandar'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SJ1FDwPRl6I/AAAAAAAAAD0/qWrAturPEVQ/s72-c/DSC00009.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-8774816930068139381</id><published>2008-08-07T07:35:00.000-07:00</published><updated>2008-08-09T04:19:35.891-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Ini Jazz Aceh, Teungku !</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SJ1HXJKsr5I/AAAAAAAAAD8/7DrVm7kq9aI/s1600-h/Koran+Aceh+Independen.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SJ1HXJKsr5I/AAAAAAAAAD8/7DrVm7kq9aI/s400/Koran+Aceh+Independen.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232416804997738386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Komunitas Maestro Aceh menggelar Khanduri Jazz II. Konser Jazz besar pertama aneuk nanggroe di tanah endatu. &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Perlahan musik meloncat surut ke tujuh tahun silam. Nyawoung sebenarnya tembang etnik. Lagu yang liriknya bercerita tentang proses setelah kematian: permohonan jiwa untuk menyatu kembali, izin Tuhan, kondisi jasad setelah 44 hari di liang lahat dan sebuah memori pada zaman buruk saat musik itu diciptakan; Aceh yang berdarah. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Namun para musisi jazz Aceh itu sejenak melupakan kengerian, Nyawoung muncul dalam irama jazz yang mengalun, nada-nada mengalir, repetisi mencairkan kata-kata ngeri disetiap hentakan kaki. Dari tangan Muritza Thaher, musisi sekaligus arranger Aceh itu, instrumen lahir secara akrobatik. Mujibburrizal, anak Indrapuri, Aceh Besar yang kini salah satu vokalis grop nasyid Qatrunnada, Malaysia menyanyikan Nyawoeng dengan lembut, berbeda dari sang empunya sendiri, Muchlis yang meninggal saat gempa dan Tsunami meluluhkan Aceh Desember 2004 silam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Jazz adalah mengalun, swing. Namun jazz bisa berarti apa saja. Dari Khanduri Jazz II di Gedung ACC Sultan Selim II, Banda Aceh, Jumat Malam 19 Juli 2008 lalu, Jazz juga tampil dalam suasana barok. Tembang-tembang seperti Boogoie Down yang dibawakan Goya Kala, Esokkan Masih Ada oleh Didy dan Aku Malu oleh Peut Voice mampu menghentakkan pengunjung. Mereka yang manyoritas kaum muda ikut berjoget dan bernyanyi. Jazz di Aceh juga digandrungi kaum Muda.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Tembang yang ditampilkan adalah lagu nomor standar dari lagu-lagu jazz populer yang diarangemen ulang Moritza. Khanduri Jazz diisi berturut-turut oleh Maestro Band, Moritza Taher Combo, Kelompok Taloe, duo gitaris Nadi &amp;amp; Denny Syukur, serta demo jazz instrumental oleh para musisi muda sekolah musik Moritza. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Yuni Sarmiati, gadis usia 22 tahun asal Banda Aceh diperkenalkan sebagai gitaris jazz perempuan pertama Aceh. Mahasiswi Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala itu baru lima bulan bergabung di Sekolah Musik Muritza. “Ini aksi panggung saya yang pertama, saya mengenal jazz lebih banyak di sekolah Muritza.” Kata Yuni. Dara imut itu terlihat anggun dengan gitar warna pink saat menampilkan water melonman dan Blue Bossa. Selain Yuni, ada Erlinda di piano. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Khanduri Jazz II Jumat malam itu mampu menarik perhatian kalangan muda dan warga asing. Margaret Kartomi, Seorang profesor dari fakultas musik Monash University, Australia mengaku sangat menikmati musik Jazz yang ditampilkan Komunitas Maestro Aceh itu. “Ini Jazz Aceh,” sebut Kartomi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Dan Jazz adalah kebebasan. Bagi Moritza Jazz juga improvisasi jiwa. Komponis telah menyediakan kerangka, namun setiap musisi bisa memainkan instrumen secara akrobatik di sekitar kerangka itu. Lompatan-lompatan tak terduka, lingkaran-lingkaran kecil dan nada yang berjungkir balik. Dengan peralatan piano, keyboard, qitar, bass yang dimiliki kelompok Maestro Aceh pada malam itu, Semua bergerak sendiri tanpa saling merusak.  Dan itulah Jazz Aceh, Teungku ! &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-8774816930068139381?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/8774816930068139381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/8774816930068139381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/08/ini-jazz-aceh-teungku.html' title='Ini Jazz Aceh, Teungku !'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SJ1HXJKsr5I/AAAAAAAAAD8/7DrVm7kq9aI/s72-c/Koran+Aceh+Independen.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-734710461086303170</id><published>2008-08-07T07:28:00.001-07:00</published><updated>2008-08-07T07:34:34.066-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Tunang Tergerus Zaman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SJsHNWXdpcI/AAAAAAAAADk/u6Bfa16Kitw/s1600-h/Arif+Punya.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SJsHNWXdpcI/AAAAAAAAADk/u6Bfa16Kitw/s400/Arif+Punya.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231783318044648898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bruang Tapa tak ganas sore itu, perintah pawang tak digubris. “Heaaaa, bek rugoe nan hai meutuah! (Heaaaa, jangan hanya besar nama hai sayang!),” bentak sang pawang sembari menarik tali yang dicocok pada hidungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Itam, rival dalam pertandingan peupok leumo (adu lembu) juga menunjukkan sikap sama. Tak mengubris tuannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu sore, 1 Juni 2008. Lapangan bola Liempok, Aceh Besar dipenuhi penonton. Mereka berteriak menyemangati kedua petarung, ledekan pun tak sedikit. “karugoe tiket sang nyoe (rugi tiket nonton sepertinya),” teriak penonton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertarungan 10 menit itu, harus ada yang jadi pecundang supaya sang juara bisa kembali berlaga minggu depan. Kedua pawang mengeluarkan segala jurus untuk memancing emosi lembu. Meniup telapak tangan sendiri hingga berbunyi seperti siulan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanduk dua lembu tunang itu didekatkan kembali. Upaya ini membuahkan hasil. Bruang Tapa mulai menanduk Raja Hitam. Heaaaaa..., pertarungan dimulai pada menit ke tiga.  Sorak penonton riuh membahana saat dua lembu itu saling adu tanduk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembu itu sepertinya tahu apa yang diinginkan pendukungnya. Semangat mengalir dalam tubuh kekar bertanduk, debu-debu mengepul membuat kabut saat mereka berlaga. Sorakan makin riuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peupok leumo adalah permainan tradisional khas Aceh Besar. Tempo dulu, permainan ini berkembang di kalangan peternak lembu. Mereka menggelar peupok leumo untuk sebuah pengakuan, bahwa peternakan merekalah yang punya lembu berkualitas wahid. Biasanya tunang diprakarsai oleh pemilik lembu antar lokasi, kampung atau mukim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunang tak sekadar huru-hara, punya tujuan di baliknya. Adu lembu diyakini akan menjadikan sapi lebih agresif dan sehat, bahasa Aceh-nya disebut pleh bren leumo. Maklum, para peternak umumnya hanya mengandangkan sapi mereka dan hanya diberi makan rumput yang telah disiapkan. Seiring waktu, adu lembu menjadi hiburan bagi warga. Biasanya digelar pada hari-hari besar dan selepas panen raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Liempok, tradisi lama itu diprakarsai sebuah pantia yang dibentuk khusus. Tujuannya sama, pleh bren leumo  untuk hajatan mencari lembu pemenang. Di beberapa lokasi lain, tradisi itu pernah subur, tapi belakangan dilarang warga. Menjadi arena perjudian jadi alasan. Entahlah... ini hanya cerita tentang tradisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peupok leumo diadakan setiap Minggu sore pukul 16.00 Wib, atau selepas shalat ashar. Menyaksikan hiburan lama, penonton diwajibkan membawar tiket sebesar Rp15 ribu. &lt;br /&gt;Uang ini dikutip panitia sebagai biaya menyewa lembu tarung. “Uang itu untuk memberi biaya perawatan lembu pada pemiliknya, biasanya kami menyewa setiap lembu seharga Rp300 ribu hingga Rp1 juta,” kata Yah Nuh, panitia peupok leumo di Liempok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya tak sama untuk semua lembu, yang tangkas dibayar lebih mahal. Lembu yang diadu dalam tunang adalah lembu pilihan. Semua punya nama yang ditoreh pawangnya. Bruang Tapa dan Raja Hitam misalnya, seperti lembu yang bertarung sore itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang peternak asal Ulee Kareng, Banda Aceh, Yah Usman menyebut Bruang Tapa dan Raja Hitam adalah pemain baru. “Itu lembu-lembu baru, biasanya diadu saat pembukaan,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunang punya aturan ketat. Menjaga lembu tak cedera, waktu tarung hanya dilakukan 10 menit. Dalam periode itu, kalau ada lembu yang menghindar alias lari, dialah pencundang. Jika keduanya bertahan, maka pertandingan dihentikan; seri. Tarung ke depan, mereka tak bisa berduel lagi. “Mungkin mereka tak bisa bertarung berdua, hana pah lawan,” ujar Yah Usman.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik lembu yang memenangkan pertandingan akan mendapat keuntungan lain. Jika jagoan mereka sering memenangkan pertarungan, maka harga tawar akan kian meningkat. Harga tawar satu lembu tarung tangguh berkisar Rp20 juta hingga Rp30 juta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Bruang Tapa dan Raja Hitam, juga adalah Bren. Mengadopsi nama senjata serbu made in Cina, Bren adalah lembu yang paling disegani saat ini, minimal di Aceh Besar. Selain Bren, ada L-300 yang punya kemampuan sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi warga yang hobby tunang lembu, nama-nama lembu petarung sudah terafal di luar kepala, melegenda. Setiap lembu baru yang bertarung atau punya fisik yang sama dengan legenda mereka, maka langsung dikaitkan. Ditabalkan seperti kenangan mereka. “Pada tahun 1992 ada Planet Bulen yang tak terkalahkan,” cerita Dadek, peminat tarung lembu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peupok leumo tunang adalah hiburan, ajang promosi dan tak jarang menjadi ajang taruhan bagi warga. Terlepas plus-minus, peupok leumo adalah tradisi yang kian jarang. Aturan-aturan entah kesadaran telah membuat budaya itu langka. Tunang yang tergerus zaman. [arif surahman]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Harian &lt;strong&gt;Aceh Independen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-734710461086303170?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/734710461086303170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/734710461086303170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/08/tunang-tergerus-zaman.html' title='Tunang Tergerus Zaman'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SJsHNWXdpcI/AAAAAAAAADk/u6Bfa16Kitw/s72-c/Arif+Punya.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-3682358746984081091</id><published>2008-06-15T09:57:00.000-07:00</published><updated>2008-06-15T09:58:25.437-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mungkin Puisi'/><title type='text'>Ayat-Ayat Pudar</title><content type='html'>&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Puisi Arif S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang gelap&lt;br /&gt;Kau tahu peci dan sarungmu di lantai&lt;br /&gt;Tapi kau biar tergelar diendap debu-debu&lt;br /&gt;Kutu busuk di tilam itu, menggodamu&lt;br /&gt;Mengajak menari di mimpi-mimpi basah&lt;br /&gt;Oh tidur lelap&lt;br /&gt;Ach, ach… mimpi senang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di surau-surau&lt;br /&gt;Tungku-tungku telah syahid &lt;br /&gt;Kau tutup kitab-kitab itu&lt;br /&gt;Ayat-ayat telah pudar&lt;br /&gt; tak lagi memberimu bacaan asyik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bangunan putih&lt;br /&gt;Mimbar-mimbar kosong&lt;br /&gt;Kau tak peduli&lt;br /&gt;Itu tak terganti tayangan Tarzan di tong mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aih, mualku dalam-dalam&lt;br /&gt;Pada ayat-ayat pudar &lt;br /&gt;Yang terbata kau baca padaku &lt;br /&gt;Tentang Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Banda 05 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-3682358746984081091?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/3682358746984081091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/3682358746984081091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/06/ayat-ayat-pudar.html' title='Ayat-Ayat Pudar'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-2004893058836632784</id><published>2008-05-27T08:14:00.000-07:00</published><updated>2008-12-08T13:25:07.401-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Pita Merah dan Pria Tanpa Topeng</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SDwnm-HgjaI/AAAAAAAAADQ/02lmupoSFqE/s1600-h/candle3.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SDwnm-HgjaI/AAAAAAAAADQ/02lmupoSFqE/s400/candle3.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205078819796454818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Arif Sidhey&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span&gt; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“ODHA harus dilibatkan dalam menanggulangi penyakit AIDS, mustahil bisa melakukan pelayanan dan pencegahan Aids tampa melibatkan orang yang mengalaminya secara langsung.”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span&gt;- Pria Tanpa Topeng - &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Lelaki itu tampil menggunakan kemeja putih, di dada kirinya tersemat red ribbon, pita warna merah yang berbentuk huruf v terbalik. Dia berjalan menuju panggung bersama seorang pria yang juga berpakaian putih, serta Dewi Muetia, istri wakil gubernur Aceh Muhammad Nazar. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;Orang-orang yang menyambut kehadiran mereka sontak bertepuk tangan, obor-obor digoyangkan membentuk garis-garis api. “Kenapa dia tidak pakai topeng?” tanya seorang panitia kaget. “Ini tak sesuai dengan skenario,” sambung panitia lain pasrah ketika melihat tiga orang tamu tersebut telah duduk berdampingan di panggung dan pembawa acara mulai menyapa penonton. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Dalam skenario yang disusun panitia Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2008 yang dilangsungkan di Taman Sari, Banda Aceh Jumat malam (23/05) itu, dua lelaki berpakaian putih itu direncanakan tampil menggunakan topeng. “Saya ingin melihat stigma masyarakat Aceh terhadap ODHA/OHIDHA secara langsung,” tandas itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;ODHA/OHIDHA adalah sebutan untuk orang yang terjangkit HIV (Human Immunodeficiency Virus), virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi penyakit tertentu (sindrom). Sementara AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan definisi klinis bagi orang yang terinfeksi HIV. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Di malam perenungan itu lelaki berpakaian putih itu bercerita tentang perjalanan hidupnya sebagai ODHA. Pemuda itu baru sadar dirinya terjangkit HIV dan AIDS pada tahun 2001. Selain itu, gambaran-gambaran mengenai penyakit HIV dan AIDS turut dipaparkan. “HIV terdapat di darah seseorang yang terinfeksi (termasuk darah haid), air susu ibu, air mani dan cairan vagina,” jelasnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Di Aceh ada tiga rumah sakit yang mampu melayani pemeriksaan terhadap infeksi penyakit HIV dan AIDS, Yaitu Rumah Sakit Kesdam Iskandar Muda, Bahyangkari Polda Aceh dan Rumah Sakit Umum Zainol Abidin (RSUZA). Lelaki itu mengharapkan masyarakat tidak takut untuk memeriksa, “Dengan cepat kita tahu, semakin besar peluang untuk selamat,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Lelaki tanpa topeng itu menyayangkan stigma masyarakat terhadap ODHA. “Setiap orang punya masa lalu masing-masing, seharusnya kita tidak memvonis seseorang dengan masa lalunya,” ujar pria itu disambut tepuk tangan dari penonton. “Saya telah open status di panggung ini, tapi masih banyak kawan-kawan saya di daerah yang ngumpet di rumah,” ungkapnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Ia mengharapkan peran ulama dan pemerintah menyikapi keberadaan ODHA dalam menanggulangi penyakit AIDS di Aceh. “ODHA harus dilibatkan dalam menanggulangi penyakit AIDS, mustahil bisa melakukan pelayanan dan pencegahan Aids tampa melibatkan orang yang mengalaminya secara langsung.” &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Malam renungan AIDS Nusantara (MRAN) secara serentak dilaksanakan pada Mei minggu ke tiga, baik ditingkat nasional maupun internasional. Kegiatan itu untuk mengenang orang yang telah meninggal karena AIDS dan juga sebagai bentuk dukungan bagi orang yang hidup dengan HIV-AIDS. Pita merah dilambangkan sebagai bentuk kepedulian pada HIV dan AIDS secara mengglobal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Lelaki itu telah menyematkan pita merah di sisi sakunya dan mencabut topeng melawan stigma. Di pelosok-pelosok nun jauh, terdapat puluhan ODHA lain yang masih bersembunyi dan akhirnya menghilang di kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-2004893058836632784?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/2004893058836632784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/2004893058836632784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/05/pita-merah-dan-lelaki-tanpa-topeng.html' title='Pita Merah dan Pria Tanpa Topeng'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SDwnm-HgjaI/AAAAAAAAADQ/02lmupoSFqE/s72-c/candle3.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-2761111316463045369</id><published>2008-05-07T08:25:00.000-07:00</published><updated>2008-12-08T13:25:07.515-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gambar'/><title type='text'>Melengkapkan Data</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SCHLAs-hYVI/AAAAAAAAACg/43LhSPxcBJM/s1600-h/DSC00002.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SCHLAs-hYVI/AAAAAAAAACg/43LhSPxcBJM/s400/DSC00002.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197658657896096082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Arah Jarum Jam : &lt;strong&gt;Taufik Zass&lt;/strong&gt; [Harian Aceh], &lt;strong&gt;Mursal Is&lt;/strong&gt; [Serambi Indonesia], &lt;strong&gt;Khaddin&lt;/strong&gt; [Rakyat Aceh] dan &lt;strong&gt;Arif S&lt;/strong&gt; [Aceh Independen]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-2761111316463045369?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/2761111316463045369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/2761111316463045369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/05/blog-post.html' title='Melengkapkan Data'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_s91U-iBpy3o/SCHLAs-hYVI/AAAAAAAAACg/43LhSPxcBJM/s72-c/DSC00002.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-5123420150787745078</id><published>2008-04-11T23:15:00.000-07:00</published><updated>2008-04-14T22:59:09.666-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Berdamai Atau Ke Kantor</title><content type='html'>Mengintip Aktivitas Razia Polisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sepeda motorku melaju pelan di ruas jalan T. S.A Mahmudsyah, Banda Aceh. Rabu pagi itu (09/04), saya baru saja menyelesaikan sarapan pagi di kede Jurnalis Peh Tem, warung kecil yang terletak di depan Kantor Berita Nasional ANTARA.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalan yang sesak dengan debu itu, sebuah klakson memanggilku, pengendaranya berseragam polisi lengkap dengan helm putih. Dia mengenderai sepeda motor Honda jenis Astrea Grand keluaran tahun 1999. Sambil memberi tabik, dia juga memberi isyarat supaya saya menepikan kenderaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat pagi pak” sapanya. Sekilas tidak ada kesan garang pada polisi yang satu ini, nada bicaranya terkesan dibuat-buat. Pelayan masyarakat mungkin harus bersikap sopan pada masyarakat yang ingin dilayaninya. sementara aku merasa bersalah karena sepeda motorku tidak memasang nomor polisi dibelakangnya. Akhir-akhir ini pihak Kepolisian dari Poltabes Banda Aceh sedang gencar-gencarnya melakukan rasia terhadap kenderaan tanpa dokumen, juga sepeda motor yang tidak memasang nomor polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh saya lihat surat-surat kenderaan Anda, Pak”. Polisi itu meminta surat-surat motor saya dengan menggunakan panggilan “pak”. Padahal jelas, dari tampang, dia jauh lebih tua dan berwibawa. Saya menyerahkan semua dokumen kenderaan, termasuk SIM, STNK dan dia juga meminta KTP saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kenapa Bapak tidak memasang plat dibelakang, pajak motor Bapak juga mati. Bapak tidak tahu peraturan lalu lintas?”. Polisi itu bertanya dan mengomel, dia mulai menampakkan tampang tidak bersahabat. Saya hanya diam, dalam hal ini apa yang dituduhkannya memang benar. Pajak kenderaan saya baru satu minggu yang lalu mati, sementara plat belakang sengaja tidak saya pasang karena saya tidak suka melihat pantat motor saya ada plat. Tidak gaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian dibawanya ke pos tidak jauh dari tempat saya dihentikan. Di ujung jalan S.A Mahmudsyah, di tepi kali krueng daroy itu saya disodorkan satu buku kecil yang berisi tentang peraturan-peraturan lalu lintas lengkap dengan denda dalam bentuk Rupiah yang harus disetor untuk setiap pelanggaran. Ternyata selain saya, ada tiga pengedara lain yang melangar peraturan lalu lintas di pagi itu. Bahkan seorang pengendara sampai menangis meminta pihak polisi tidak menyita sepeda motor miliknya “tolonglah pak, motor saya jangan ditilang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu memelas dengan penuh harap. Tapi beberapa polisi lain bahkan menertawakannya. “ah nangis, kenapa tadi kamu begitu congkak saat mengendara?”, ejek salah seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut lain, seorang lelaki tengah baya sedang memberikan alasan-alasan kepada seorang polisi yang sedang mengintrogasinya. “pajak kenderaan Bapak sudah lima tahun mati, mengapa tidak diurus?” tanya polisi tersebut. Lelaki itu mengaku semua buku kepemilikan terhadap motornya telah hilang bersama rumah beserta anak dan istrinya saat gelombang air laut menyapu perkampungannya akhir tahun 2004 lalu. Ternyata polisi itu tidak mudah percaya, segala hal menyangkut kenderaan milik lelaki tersebut ditanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian dua gadis remaja juga ikut berada di pos kecil itu. Mereka juga dihentikan karena tidak menggunakan nomor polisi di bagian belakang sepeda motor yang gunakannya. Semantara saya masih ditanyakan polisi menyangkut nomor polisi yang tidak saya pasang dan pajak motor yang dua minggu lalu mulai tidak valid lagi. “Bapak melanggar dua peraturan” jelas polisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengeluarkan surat tanda tilang dan menyuruh saya untuk menandatanganinya. “ada jalan lain Pak” saya memberanikan diri bertanya, takut kalau pertanyaan saya tersebut menyinggung perasaan polisi tersebut. Diluar dugaan dia menyambutnya dengan bersahabat. “Itu kalau bapak mau, tapi kami tidak minta ya”. Tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi tersebut kembali membuka buku kecil warna putih dengan cover lambang kepolisian lalu-lintas. Dia menunjukkan angka sebesar Rp. 250 ribu untuk pelanggaran tidak memilikiSurat Izin Mengemudi (SIM), Rp. 120 ribu bagi yang tidak membayar pajak dan Rp. 150 ribu bagi yang tidak memasang nomor polisi yang lengkap pada kenderaan bermotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melongo melihat jumlah denda yang harus saya bayar. Perlahan rasa menyesal juga menghinggapi perasaan ini. “Andai aku membayar pajak tepat pada waktunya” ringisku. Tapi sia-sia, penyesalan akan datang saat kita terjaring razia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana, saya hanya bisa membantu jika bapak membayar Rp. 250 ribu saja” tawar Polisi tersebut. Seperti pemuda yang menangis tadi, saya juga memohon keringanan. “Tidak boleh kurang lagi, Pak?” pelas saya. “Ini sudah sangat saya bantu” tandas polisi tersebut, dia juga mengatakan kalau saya dibawa ke kantor jumlah uang yang harus saya setor melebihi jumlah yang polisi tersebut tawarkan.&lt;br /&gt;Setelah tawar-menawar sekian waktu, akhirnya polisi tersebut sepakat saya membayar pelanggaran ini dengan jumlah Rp. 100 ribu. Dia menyuruh saya menandatangi perjanjian, lain kali saya harus memasang nomor polisi yang lengkap di sepeda motor saya dan membayar pajak tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, banyak pengendara sepeda motor yang tertangkap. Pelanggaran yang banyak dilakukan adalah tidak menggunakan plat nomor polisi yang lengkap, bagian depan dan belakang kenderaan bermotor. Ternyata polisi punya trik tersendiri dalam memergoki palaku pelanggaran lalu-lintas ini. Mereka berkeliling dengan menggunakan sepeda motor pribadi dan menghentikan pengendara yang melanggar. Tidak sedikit pengendara yang melanggar peraturan tersebut lebih memilih jalur damai, dari pada membiarkan sepeda motor mereka ditilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ga usah segan, uang yang Bapak setor untuk negara”. Polisi itu kemudian memberikan kunci sepeda motor saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-5123420150787745078?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/5123420150787745078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/5123420150787745078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/04/mau-damai-atau-ke-kantor_11.html' title='Berdamai Atau Ke Kantor'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-9175389729025887095</id><published>2008-04-09T07:39:00.000-07:00</published><updated>2008-04-15T00:20:22.076-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Peri Bertanduk Merah</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;Cerita Pendek&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;arif s&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                                              &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;“apa di tanganmu?” Tanya Jamila pada satu hari yang berkesan, ketika aku berhasil mengajaknya ke pantai menyaksikan pemancing ikan yang berjejer di sepanjang tanggul Kuala Radja.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;“Apa kabar cinta?” tanya dia melalui pesan singkat yang ku buka di handphone. Waktu itu pagi-pagi sekali, ketika ayam jantanku berkokok untuk pertama kalinya di pagi yang berembun itu. Namun tidak seperti biasa. Aku tidak bisa membalas sapa perempuan yang kerap membangunkan mimpiku. Membuat aku harus meninggalkan tidurku setiap malam untuk merangkai wajahnya di awan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Namun selalu, setiap aku dapat menyatukan titik-titik bintang itu menyerupai wajahnya. Aku merasa begitu takut, matahari esok akan menghapus raut bintang yang melukis rupa Jamila. Dan bila begitu, aku juga benci pada si Jhon, ayam jantanku. Setiap kokoknya selalu menandakan pagi datang. Bagiku Jamila seperti peri bertanduk merah, yang pertama sekali menanyakan kabar cinta pada ku di pagi ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Baik, seperti kabar yang diterbangkan burung-burung itu”. Akhirnya aku membalas. Seketika ku rasa pagiku begitu hangat, seperti jari-jari besar yang merangkulku dalam pelukan sinar mentari pagi. Aku merasakan Jamila ada, Sebagai peri bertanduk merah yang menyihir logika ku kembali ke sepuluh tahun yang lalu. Saat perasaan ganjil datang untuk pertama kali dalam hidupku di tujuh belas tahun yang manis. Aku tak mengerti, aku merasa tertarik dan selalu berkhayal berada di dekat teman sekelas ku selalu, Rossa. Gadis dengan pipi kemerah-merahan, pandai membuat puisi, memiliki mata dan dada yang indah. Tapi aku tidak pernah menyatakan rasa yang ku miliki ke dia, gadis yang terlahir di perbukitan Gayo yang sejuk itu terlalu lembut dan menggairahkan. Sampai sekarang aku tidak tahu dimana dia berada. Mungkin dia sekarang adalah seorang ibu yang baik untuk anak-anaknya yang manis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Usia ku kini di purnama penuh, Jamila kembali membuatku merasakan khawatir, cemburu, rindu dan bermacam gundah lain bila sekali pagi saja dia lewatkan untuk menyapaku, seperti rasa yang pernah Rossa cipta. Aku merasa tak tenang. Aku selalu begitu, benci mengakui rasa yang kumiliki. Rasa tak nyaman seperti ini yang membuat aku benci jatuh cinta. Menurut Fauzan, guru menulisku di sekolah yang unik, saat aku iseng mengikuti satu kontes menulis tentang negeri ku, tentang carut marut bandit-bandit pembantai. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Jatuh cinta membuat kita setengah gila” katanya dalam satu pertemuan. Aku mengerti, ini sebuah pengakuan. Dan aku merasakan setiap kali separuh kewarasanku terbang ketika mengingat Jamila.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;***&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“apa di tanganmu?” Tanya Jamila pada satu hari yang berkesan, ketika aku berhasil mengajaknya ke pantai menyaksikan pemancing ikan yang berjejer di sepanjang tanggul Kuala Radja. Aku suka melihat bayangan mereka memanjang hingga menyentuh jempol kakiku saat matahari mulai membenamkan diri di balik gunung. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“ganja, warisan moyang kita”. Aku menatap matanya, dia tidak sedang memandang laut, juga tidak menatapku dengan lintingan yang telah kuselip di bibir. Dia menengadah ke atas, saat burung-burung camar memekik mengelilingi kami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“kau sering gunakan itu?” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“sesering aku mengingatmu”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“kita pulang” Jamila berkata tanpa gerak, kedua tangannya disilangkan di dada. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“tunggu, kita belum melihat matahari terbenam” aku coba mencegahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“kita pulang” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“kau tidak ingin aku mengucapkan sesuatu pada mu saat matahari itu pergi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“tak penting, kau tidak akan sadar saat katakan itu” kini Jamila menatap mataku, ku lihat kilau kuning senja itu juga memantul di mata indahnya. Sungguh, aku mengagumi mata coklat Jamila yang dipayungi alis lebat. Aku selalu gugup jika mata itu menatap mataku. Aku suka wanita beralis tebal. kata nenek ku,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;wanita yang punya alis tebal itu setia. Alis nenek ku juga tebal, dia meninggalkan kakek ku seorang diri di tempat yang jauh. Nenek tak mau memaafkan kesalah kakek dan memilih hidup bersama anak-anaknya. Masa tua yang retak. Dan aku tidak mau punya nasib yang sama dengan kakek nantinya. Dan kedekatan ku dengan Jamila, aku sendiri tak sepenuhnya mengerti. Alis tebal, mata indah, dada yang indah juga, dan pinggul yang membentuk biola. Dan…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Tapi aku sadar mencintai mu Jamila” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kulihat Jamila seperti melotot ke mukaku. Kemudian dia berjalan ke arah tanggul. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“berikan itu padaku” Jamila mengulurkan tangan saat aku telah berada di sisinya. Aku ragu memenuhi, takut Jamila akan melempar lintingan itu ke laut. Tapi tidak, setelah kuberikan, Jamila mengisap lintingan itu dengan mata terpejam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“bagaimana rasanya” aku bertanya ketika gumpalan asap berebutan keluar dari belahan bibirnya yang seksi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pahit”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku diam, tidak ingin mengomentari. Matahari di sebelah Barat perlahan mulai merendah menyentuh puncak bukit. Laut berubah warna dan khatulistiwa menjauh. Aku merasa terayun ombak, sesekali hempasan ombak besar itu memercikkan air asin ke arah kami. Nelayan-nelayan mulai memarkirkan perahu motornya di dermaga. seorang pemancing sedang membereskan perlengkapan miliknya. Aku menatap Jamila.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“kata mu, kau tak percaya pada cinta. Tapi mengapa tadi kau ucapkan itu pada ku?” Jamila berbicara pada ku saat mata kami bertemu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“itu dulu, waktu yang lama sebelum sebentar mengenalmu” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“kau mabuk, aku tidak mau mendengar ucapan cinta seorang pemabuk” Jamila kembali menghisap lintingan itu. Laut mulai tenang, riak-riak kecil dan kicau camar. Matahari terbenam di balik bukit membiaskan warna jingga yang romantis. Jamila kemudian duduk di sisi kiri ku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“kau tahu. suamiku dulu seorang yang baik, dia tidak pernah merokok dan berganja sepertimu. Setiap hari dia menghabiskan waktunya di &lt;i style=""&gt;meunasah&lt;/i&gt; sebagai tukang sapu dan tukang azan. Dia juga sering mengikuti pengajian, benci pada perbuatan-perbuatan seperti yang kita lakukan selama ini. Menurut dia, perbuatan yang seperti ini akan mendatangkan azab Tuhan.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kulihat mata Jamila mulai berkaca, kilau kuning senja kini bertambah beberapa titik sebelum air mata itu membelah pipinya dan berakhir di lenganku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Entah untuk apa dia memberi tahu ku tentang suaminya. Aku tidak pernah mau mendengar cerita tentang lelaki itu, aku tidak mengenal dia, apa peduli ku terhadap suaminya. Bagiku Jamila lebih baik untuk mengisi hari-hari yang tidak menentu seperti sekarang. Dia peri yang menolongku dari kejaran polisi. Bagi polisi mungkin dia bertanduk merah, karena menolong seorang pengedar narkoba antar provinsi. Ah, aku tidak tahu apa polisi mengetahui itu. Sekarang aku tidak punya pekerjaan setelah kurir ku ditangkap di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Medan&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Dari mereka polisi tahu keberadaan ku, dan Jamila yang meloloskan ku dari kejaran mereka di malam naas itu. Tiga bulan aku tinggal di huntara korban &lt;i style=""&gt;aloen buluek.&lt;/i&gt; Di sisi barak Jamila, Janda yang kehilangan segalanya, rumah tangga yang baru dibangun selama enam bulan lenyap disapu gelombang laut. Sekarang seluruh waktu ku hanya was-was, mengisi hari dengan menunggu bantuan dari orang-orang asing yang singgah. Pekerjaan yang telah ku rintis selama empat tahun itu musnah sudah. Bukan karena &lt;i style=""&gt;aloen buleuk&lt;/i&gt;, tapi polisi. Aku benci polisi dan pemerintah. Selama ini tanaman ganja yang menghidupi ku, adik ku bisa sekolah dengan daun itu, ibu dan ayah bisa ku bantu. Aku tidak tahu nasib mereka sekarang, Dek Gam, Dek Noeng. Sekolahkah mereka, makankah mereka hari ini? Aku terpaksa membiarkan rasa iba ku berlalu, perasaan yang menyebalkan karena ketidak berdayaan ku yang naif.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Jamila menyentuh pundak ku, untuk kesekian kali mata ku bertemu matanya. Aku menunduk, tak kuasa menahan geram dan sedih. Jamila pasti menyangka aku ikut sedih dengan kematian suaminya di Desember basah lalu. Biarlah, ini bisa membuat dia sedikit terhibur. Entah kenapa aku tidak tega menyakiti dia. Cintakah ini? Kubiarkan Jamila menumpahkan kesalnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“suamiku tidak berbuat buruk, tapi azab itu menimpanya. Laut tidak adil, aku benci laut” Jamila melemparkan sebongkah batu ke laut. Aku mengerti, dia trauma dengan amuk laut enam bulan yang lalu. Laut yang biru, tempat awal mula kehidupan dimulai. Pantai Ulee Lheu, Pantai Lhok Nga, Pulau Weh dan pulau-pulau lain di dunia ini memulai kehidupannya dari asin air itu. Dari laut kehidupan dimulai, laut pula yang membuat semua berakhir, seperti jiwa-jiwa yang mati di akhir tahun sedih itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Mau tambah lagi?” ku sodorkan satu lintingan ganja lain ke Jamila. Dia tersenyum menyambut pemberian ku. Senyum khas yang selalu terekam, terputar kembali ketika sunyi ku dalam kesendirian. Ombak menyanyikan ritme yang sama dengan tempo yang berulang-ulang. Petang akan berakhir. Bulan sabit menggantung di atas hamparan laut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“kau masih benci laut?” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Jamila membakar lintingan ganja itu, tersenyum dengan manis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“aku benci suamiku!” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;u&gt;Kamus&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="';font-family:"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Meunasah&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Tempat pengajian/ibadah &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="';font-family:"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;aloen buleuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Gelombang laut yang sangat besar/Tsunami&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-9175389729025887095?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/9175389729025887095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/9175389729025887095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/04/peri-bertanduk-merah_09.html' title='Peri Bertanduk Merah'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-745848713577998085</id><published>2008-04-09T07:35:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T23:30:44.852-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mungkin Puisi'/><title type='text'>Mimpi Hari ini</title><content type='html'>&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;Aku tidak seperti orang jatuh cinta lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;Kala pandang pertama membawa asa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;Hati memekarkan bunga-bunga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;Saat itu, aku yakin cinta bisa buat aku berdiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;Dan saat terpaku menatap tugu yang ditoreh dengan darah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;Adalah kita yang memimpikan asa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;Hari ini, mereka bukan yang dulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;Tapi sejarah membawa mereka pada tugu bisu ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;Lalu malam mengajakku ke peraduan bulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Memimpikan bintang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;Aih, aku tidak mau seperti burung itu !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;Hatinya terkatup, tidak memekarkan apa-apa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="'"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Darussalam, 29 Januari 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-745848713577998085?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/745848713577998085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/745848713577998085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/04/mimpi-hari-ini.html' title='Mimpi Hari ini'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-6745304689054710425</id><published>2008-04-09T07:33:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T23:32:14.068-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mungkin Puisi'/><title type='text'>Bulan di Bawah Jembatan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Bulan tak sempurna di sungai yang membelah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Bergoyang-goyang di hempas angin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Malam itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Satu tangan kecil meraihnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Namun tak bisa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Bulan di gengamannya luruh, tak sisakan apa-apa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;“Aku ingin bulan itu”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Matanya basah, tangannya basah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Sungai alirkan air ke laut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Kehidupan sedang berjeda, sunyi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Ia masih menunggu bulan itu mendekat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Tangan basah itu menggapai &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Di bawah jembatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Kehidupan menggantung &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Anak kecil yang tak bisa tidur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Galau dalam putaran waktu yang tajam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;“Datang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lagi kah ia esok malam?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Lamnyong, 1 Agustus 2007&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-6745304689054710425?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/6745304689054710425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/6745304689054710425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/04/bulan-di-bawah-jembatan.html' title='Bulan di Bawah Jembatan'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-5903314281963192757</id><published>2008-04-09T07:28:00.001-07:00</published><updated>2008-04-11T23:31:44.383-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mungkin Puisi'/><title type='text'>Kopi untuk Reza</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;&lt;span style="'font-size:"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Kopi pekat di cangkir memantulkan satu sinis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Di pagi yang dihiasi kicau kuntari* itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Di atas dipan tempat sering kau meratap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Khayal-khayal mu membumbung mengajak mentari menyapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;SELAMAT PAGI &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;KOTA&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; TUA !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Dan matahari menyelinap dari celah daun kuning yang mau gugur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Hatimu berdegup pada setiap teks dari koran pagi yang mengabarkan hikayat &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Tentang penyakit yang menggrogoti warga &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Kau tertawa, berdehem dan tentu sinis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Mulutmu komat-komit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Berbicara sendiri dengan nasib sebagai pengkritik sial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Bertanya “Apa mereka menuruti titahmu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Walau ku tahu, sebatas mau mendengar kau telah bangga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Lama kopi pekat itu kau biar dingin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Mungkin pahit lebih bisa kau rasa &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Seperti aku, yang menyuguhmu kopi Ulee Kareng dari warung Abu Suman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Tempat warga sering membincangkan berita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Tentang hikayat &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Dari sisa remuk redam petaka dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-5903314281963192757?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/5903314281963192757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/5903314281963192757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/04/kopi-untuk-reza.html' title='Kopi untuk Reza'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-5443651113831514576</id><published>2008-04-09T07:27:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T23:29:47.871-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Syariat Islam ”sejarah” di Aceh</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(dari Tuengku Puteh hingga Tungku Agam)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dari warung kopi Cek Yuke, saya melihat langit senja yang memencarkan bias kekuningan. Matahari perlahan mulai menghilang dibalik kubah mesjid Raya Baiturrahman. Setelah meneguk sedikit kopi yang pahit, saya mulai ingat sejarah, mesjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh ini pernah dibakar oleh Belanda dalam menaklukkan Banda Aceh. Jendral Kohler tewas di halaman depan mesjid tersebut. Karena tidak dapat menerima komandan mereka tewas, para serdadu Belanda membakar Mesjid Raya sebagai pelampiasan. Masyarakat Aceh tidak dapat ditaklukkan, nilai agama yang mereka anut cukup kuat untuk membuat mereka rela berjuang dalam mempertahankan apa yang mereka yakini. Belanda adalah bangsa kafir yang wajib dilawan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dari sini, Belanda mulai berpikir bahwa bangsa Aceh harus dilawan dengan cara lain. Yaitu melalui agama. Islam telah menjadi akar dalam kehidupan masyarakat Aceh. Para pedagang Arab telah memperkenalkan Islam ke Aceh sejak ratusan tahun sebelum Belanda masuk dan menjajah Aceh. Atas nama penyesalan, Belanda membangun kembali Mesjid Raya Baiturrahman, bahkan lebih indah dan megah dari sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, saran C Snock Hurgronje dipraktekkan dalam menaklukkan Aceh. Belanda berhasil mengadu domba masyarakat Aceh dengan membawa agama sebagai komoditi politik untuk mencapai kekuasaan dan meredam perjuangan masyarakat Seuramo Mekkah. Ini tejadi ratusan tahun yang lalu, jauh sebelum saya dilahirkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ternyata ingatan tentang sejarah jauh lebih pahit dari kopi yang saya minum. Setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaannya, Aceh bergabung dengan Indonesia. Oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno. Aceh diberi gelar ”Daerah Istimewa” dengan tiga keistimewaan yaitu Agama, Budaya dan Pendidikan. Tapi keistimewaan dalam menjalankan Agama Islam dalam bentuk Syariat Islam tidak direspon oleh Presiden Sukarno. Bahkan Sukarno mengingkari segala janjinya dengan mencaplokkan Provinsi Aceh dalam residen Sumatra Utara. Hal ini menyulut perjuangan baru dari Abu Daud Beureueh melalui Darul Islam. Perlawanan yang memakan ribuan korban nyawa tersebut tidak hanya dalam memperjuangkan syariat Islam, tapi juga untuk segala kebrobrokan Jakarta sebagai pusat pemerintahan Indonesia yang menjalankan pemerintahan kolonial di Aceh. Abu Beureueh baru berdamai pada tahun 1961 setelah Jakarta kembali memberikan keistimewaan bagi Aceh. Tapi perjuangan dalam menegakkan Syariat Islam tetaplah mimpi dari sisa-sisa kepedihan. Realisasi keistimewaan pada waktu itu hanya pada dua pilar saja yaitu pendidikan dan budaya. Itupun tidak sepenuhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada tahun 1999, Presiden Abdurrahman Wahid meresmikan undang-undang Undang-Undang Nomor 44 untuk Aceh dimana “pelaksanaan syariat Islam” diakui. Undang-undang hasil inisiatif dari sekelompok elite dan politisi yang melihat pemberian payung politik hukum untuk penegakan keistimewaan Aceh adalah instrumen yang dapat memadamkan Perang Aceh yang berkobar kembali pasca 1998. Sebuah solusi yang terkesan terlambat dalam menyembuhkan luka masyarakat Aceh yang terus menerus merasa ditindas oleh pusat. Pemerintah menerapkan kembali ide Neo-Snouckis. Karena penerapannya hanya untuk masyarakat kecil yang berjudi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;atau meminum minuman keras untuk menghilangkan stress akibat konflik. Hukum cambukpun marak terjadi di Aceh. Para wanita yang tidak berpakaian pantas dicegat. Ada yang dibotaki, digunting celana, bahkan diarak telanjang bagi yang kedapatan melakukan mesum. Patroli polisi syariah dan kasus salah tangkap mewarnai media di Aceh. Tak ayal kritikan dari dunia luar tentang penerapan syariat islam di Aceh mengalir keras. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pada Tahun 2006 sebuah undang-undang UU No 11 mengenai pemerintahan Aceh kembali disahkan. Tapi realisasi syariat islam tetap ambigu. Ambisi &lt;i&gt;Nanggroe Syariah&lt;/i&gt; mengalahkan kemampuan yang ada. Sebagian masyarakat yang memprotes penerapan syariat ala tersebut berada di posisi - istilah acehnya "&lt;i&gt;lagẽ takalon Quran brôk. tabaca hanjeut tasipak budôk"&lt;/i&gt;- serba salah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Azan magrib mulai berkumandang dari pengeras suara mesjid. Dari tadi saya hanya tenggelam dalam ingatan sejarah yang paradoks. Lampu warung kopi mulai dimatikan, tapi suara riuh para penikmat kopi belum juga berhenti. Di Aceh, warung kopi menjadi tempat diskusi yang menyenangkan. Semua masalah yang terjadi di Aceh dan dunia didiskusikan semua. Entah itu mahasiswa, masyarakat biasa, para teknokrat,dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahkan para pejabat. Semua mereka mencintai kopi yang pahit. Seperti penerapan syariat islam yang terkesan pahit. Bagaimanapun masyarakat Aceh saat ini baru saja keluar dari kungkungan konflik yang panjang dan musibah tsunami yang tidak sedikit merenggut nyawa. Ditengah masa transisi ini masyarakat butuh seperangkat hukum yang benar-benar dapat memberikan mereka rasa adil, apapun namanya. Yang tidak memberikan kekebalan, yang bisa mengadili para koruptor, pejabat, tentara dan siapapun mereka atas berbagai kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan. Inilah ajaran Al-Quran yang sesungguhnya. Syariat islam bukan hanya mengatur bagaimana cara wanita berpakaian, karena syariat islam dapat diterapkan disembarang tempat dan waktu. Menjadikan syariat islam sebagai simbol justru akan memperburuk pandangan dunia luar yang memang anti terhadap yang berbau Islam. Aceh sekarang bukan Aceh yang dulu. Aceh yang damai telah dipenuhi tangan-tangan dunia luar dengan seribu kepentingan dibawah payung misi kemanusiaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Menerapkan syariat islam tidak bisa dengan mengandalkan kekuasaan, penerapan ajaran islam harus memenuhi tiga unsur klasik yaitu: Harus menjadi rahmat bagi sekalian alam, kemaslahatan umat, dan berkeadilan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Lalu dapatkah hukum islam yang akan diterapkan di Nanggroe Aceh Darussalam dapat menjawab segala tantangan jaman. Aceh yang beragam, Aceh yang damai dan Aceh sebagai wilayah bekas bencana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;kopi di meja mulai dingin, tanpa menghiraukan rasa pahit, kutelan tanpa sisa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Dimuat Pertama Kali di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harian Aceh&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-5443651113831514576?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/5443651113831514576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/5443651113831514576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/04/syariat-islam-sejarah-di-aceh.html' title='Syariat Islam ”sejarah” di Aceh'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-629158663282492786</id><published>2008-04-09T07:17:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T23:28:41.045-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Seramoe Kamoe Nyoe</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.25pt; text-align: justify; text-indent: -14.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;“ &lt;i style=""&gt;menulis Aceh adalah membuka kembali lembaran yang tertoreh dengan darah, lalu membacanya dengan linangan air mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.25pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;beribu prahara telah terjadi disini, dalam ketidak mengertian, kita terpaksa melakoninya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.25pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                                       &lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Perjalanan Berdarah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt; line-height: 150%;"&gt;jika Anda bertanya apa yang membuat orang Aceh begitu bangga dan tetap tegar dengan apa yang dibanggakan itu. Tentu jawabnya tidak terlepas dari sejarah kejayaan Aceh yang pernah gemilang pada jaman Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636). Kenangan ini bisa sedikit menegakkan kepala, karena apa yang terjadi setelah kilau emas tersebut adalah keterpurukan yang akan merundukkan kepala, hati nurani, dan rasa kemanusiaan kita sebagai manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt; line-height: 150%;"&gt;Ironis, negeri yang kaya raya dengan hasil alam melimpah, tapi masyarakatnya tidak pernah dapat mencicipi apa yang seharusnya didapatkan. Perjalanan Aceh setelah kejayaannya adalah perjalanan yang tidak hanya menguras peluh dan tenaga. Tetapi darah, air mata, menjadi teman yang mengiring langkah dalam ukiran sejarah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt; line-height: 150%;"&gt;Patriotisme masyarakat Aceh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam perjuangan melawan penjajahan bangsa asing telah mengukir sejarah tersendiri. Perjuangan melawan Belanda adalah hikayat patriotisme yang tidak terkalahkan, karena Belanda sama sekali tidak bisa menguasai daerah Aceh sepenuhnya. Perjuangan panjang yang mengorban banyak jiwa, harta benda telah membawa pengakuan ketangguhan bangsa Aceh dalam semangat mempertahankan marwah dan kebesaran nama Aceh. Pada akhirnnya semangat persaudaraan yang tinggi sesama bangsa yang pernah melawan penjajahan, Aceh menggabungkan diri dengan Negara Kesatuan Republik &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt; line-height: 150%;"&gt;Sungguh sayang, niat tulus tersebut harus membawa kecewa besar bagi rakyat Aceh, sebelum peluh dan darah mengering selama perjuangan melawan penjajahan. Aceh harus kembali melawan pengkhianatan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Status Aceh dan janji muluk yang pernah ditawarkan &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; hanya menjadi simbol manis semata, karena pada prakteknya &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sama sekali tidak pernah menghargai bangsa Aceh.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan dengan egonya yang tinggi, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; bertekat melawan pemberontakan rakyat Aceh yang telah diciptakan oleh &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sendiri lewat pemerintahan negatif pusat yang arogan dan rakus. Hasilnya puluhan ribu jiwa orang tidak berdosa melayang, kultur budaya asli pudar, kehidupan sosial masyarakat Aceh bergeser jauh dari ke Acehan akibat dari militerisme yang ditanamkan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; selama konflik berlangsung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt; line-height: 150%;"&gt;Pemberontakan Rakyat Aceh ditanggapi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dengan janji-janji gombal yang tidak pernah direalisasikan. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pejabat pemerintah pusat hanya bisa berdansa diatas manyat-manyat rakyat Aceh yang tumbang oleh kekuasaan negatif yang diterapkan semasa pemerintahan ORLA dan ORBA. Mimpi untuk dapat hidup damai hanya mimpi yang bertepuk sebelah tangan. Badai angkara belum juga reda. Dan Indonesia melalui pemerintahan-pemerintahnya (Habiebi, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri) yang berkuasa, tetap hanya bisa memberikan pelurunya untuk rakyat Aceh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Kesempurnaan Sebuah Derita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt; line-height: 150%;"&gt;Setelah puluhan tahun lebih masyarakat Aceh memendamkan air mata, perih atas pengkhianatan, trauma, dan mungkin juga dendam. Hingga pada akhir tahun 2004, alam seperti gusar terhadap kenyataan yang terjadi di &lt;i style=""&gt;seramoe&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;kepedihan. &lt;/i&gt;Gempa bumi yang disusul dengan gelombang tsunami telah menyapu seluruh kawasan pesisir Aceh. Ribuan korbanpun kembali berjatuhan, Aceh kembali menangis. Masyrakat Aceh di bawah tenda-tenda pengungsian meratapi nasib negeri yang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;malang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt; line-height: 150%;"&gt;Dan dalam kepasrahan terhadap nasib, Aceh hanya mampu menatap uluran tangan bangsa-bangsa lain yang mencoba membantu menegakkan kembali kepala rakyat Aceh yang merunduk. Dengan separoh keraguan dari pengalaman silam yang menyakitkan. Aceh mencoba berdiri dan berdiri, meski nanah masih ada dari sisa-sisa perjalanan yang melelahkan, hampir akal waras hilang dalam menggambarkan Aceh. Karena sampai sekarang, Masyarakat Aceh tidak menjadi diri mereka sendiri di tanah moyang. Kajayaan dulu menjadi kenangan terindah dalam sedih yang usai…&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-629158663282492786?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/629158663282492786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/629158663282492786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/04/seramoe-kamoe-nyoe.html' title='Seramoe Kamoe Nyoe'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8421461617880950012.post-5209539526118486776</id><published>2008-04-09T06:53:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T23:23:33.226-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Ibu Kaki Lima</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Dia duduk bersandar di depan sebuah toko, ia menatap pada roda-roda kendaraan yang berputar di jalan raya. Di sisi kanannya, sebatang piano disandarkan berdiri, tut-tut piano sebagian telah ompong terkelupas. Dua orang bocah perempuan saling berbisik di hadapannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Tiba-tiba perempuan itu seperti tersadar, tangannya cepat menyusup ke saku depan celana putih yang dikenakan. Beberapa lembar uang seribuan terjatuh ke lantai. Dia terus merongoh ke saku yang lain. Entah apa yang dia cari. Tiba-tiba dia meraung keras. seperti kor sepuluh ambulan yang tergesa mengantar orang sekarat. Orang-orang di jalan berhenti tuk melihatnya. Tapi dia tetap meraung. “Uangku, uangku, uangku !, anak sialan, kemana kalian?. Kembalikan uang ku !”. Teriakannya berubah isakan. orang-orang kembali melanjutkan perjalanan. ada yang heran, ada yang iba, ada juga yang menyebutnya gila. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Seharian Inur telah berjalan mengitari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, manelusuri setiap gang, mendatangi setiap pintu toko. Menyungging senyum menggoda di sela jeda lagu yang dinyanyikan. Suaranya sumbang, sesekali ia membuat desahan seperti perawan yang sedang bermain penuh perasaan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tangannya menekan tut-tut keyboard. Nada yang lahir ikut meliukkan tubuhnya, memutarkan pinggulnya seperti roda gerobak yang melintasi jalan berbatu. Dia tidak akan berhenti sebelum pemilik toko melemparkan lembaran uang ribuan ke kotak lusuh yang disodorkan dua perempuan kecil. Biasanya para pemilik toko akan menyuruhnya menari dengan berbagai &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“kamu bisa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; monyet?” tanya seorang pemiliki toko yang masih muda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“yang seperti ini?” Inur mempraktekkan seekor kera betina yang sedang menggaruk gatal di kepala dan dada. Orang yang menyaksikan atraksinya akan tertawa dan bertepuk tangan. Riuh, Inur tersenyum, melambai tangan, membungkuk, dan tak lupa mengucapkan terimakasih. Dia bergaya layaknya penyanyi di atas panggung yang mengucapkan salam kepada para fansnya yang bersorak histeris. Inur senang, sementara kedua gadis kecil yang mengikutinya hanya bingung. Tak mengerti apa yang membuat ibu mereka begitu riang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Malam mulai jatuh, kesibukan pasar beranjak sepi. Satu persatu toko mulai menutup dagangannya. Dengan memanfaatkan sinar lampu dan cahaya bulan, Inur mondar mandir mencari kotak-kotak kardus yang tercecer di sepanjang gang toko. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dia memilih &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kardus ukuran besar untuk dijadikan alas tidur. Kedua anaknya, Ana dan Ani ikut mencarikan kardus untuknya. Kebiasan menjelang malam yang kerap dilakukan mereka menjelang tidur.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Kita akan membuat rumah yang besar malam ini, coba cari di ujung &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; !”. perintah Inur pada Ana. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Ana berjalan ke arah yang yang ditunjuk ibunya. Matanya mengamati ke setiap tumpukan kardus yang tersusun di depan pintu toko. Satu demi satu dia periksa, namun semuanya berisi. Dia tidak berani mengosongkan isi yang ada dalam kardus. Pikiran kecilnya berkata jangan. Dia takut ditangkap polisi jika besok pemiliknya melaporkan mereka telah mencuri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Kak, cari aku !”, teriak Ani dari salah satu lorong yang gelap.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Serta merta Ana bergerak menuju arah suara yang memanggilnya, dia tinggalkan kardus yang sempat membuatnya berpikir keras. dengan lagak seperti pengintai, dia melambankan langkahnya. Menjingkrak dengan pelan dan …&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Hap, dapat “ pekik Ana menangkap Ani yang memberontak melepaskan pelukan kakaknya. Galak tawa pun terdengar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Eh, ibu mana?” tanya Ani merasa resah saat matanya tidak lagi melihat bayangan ibu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Gak tahu, tadi dia di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;”, jawab Ana sambil menunjuk ke arah depan salah satu toko. Kedua bocah perempuan itu saling memandang. Ani tampak gelisah. “Ibu kok tidak mengajak kita ya ?, jangan-jangan dia marah lagi”. keluh Ani. Dia takut kalo ibunya marah, dia tidak mau dipukul ibu seperti tadi sore karena mengambil uang. Sedang Ana terlihat tenang, dia sedikit lebih dewasa mengerti kondisi ibunya yang kadang sering marah-marah. Ana bahkan merasa sangat malu kalau orang-orang melihat ibunya yang sedang diamuk amarah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Dia merasa akhir-akhir ini ibunya lebih sering mengamuk dan hilang kendali. Ia juga heran dengan penampilan ibunya sekarang yang cukup berbeda dari beberapa bulan yang lalu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Tadi pagi, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sebelum berangkat, ia melihat ibunya begitu berbeda. Ibu menggunakan celana panjang ketat. Likuk pinggul dan pahanya tercetak jelas, bahkan celana dalam merah jambu ibu terlihat samar menembus celana jeans putih yang dikenakannya. Pun juga setelan baju yang digunakan. Karena begitu katat, dada ibu &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terlihat membusung seperti dua kura-kura yang sedang beristirahat dalam batoknya. Banyak pemuda dan orang tua yang bersuit nakal ketika mereka lewat. Mungkin karena pakaian ibu yang seperti itu membuat mereka ditahan dan diangkut oleh pasukan berseragam hijau yang sedang melakukan razia pada Jumat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ketika berada di kantor yang di dindingya banyak tulisan arab, ibu hanya diam dan sesekali tertawa mendengar arahan dari bapak berpeci putih. Ana baru mengerti kalo cara berpakaian ibu telah melanggar peraturan syariat islam. Sebuah peraturan baru yang mulai diterapkan di Aceh setelah Pak Presiden Abdurrahman Wahid mensahkan Undang-undang baru tentang Otonomi daerah Aceh. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Setelah dua jam mendengar ceramah dari Ustad Yasa, mereka dibolehkan pulang dengan syarat Inur tidak lagi memakai celana jeans dan baju ketat. Dalam perjalanan pulang, Inur banyak mengomel. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Manusia sok suci!”. Umpatnya. “persyetan semua… siapa yang peduli?!, enak saja mengatur aku”. Ana dan adiknya hanya bisa mengikuti dari belakang. Ia kadang sering membuang muka saat berpapasan dengan anak yang seusianya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Melihat anak-anak itu, Ana juga ingin menggunakan seragam merah putih seperti mereka. Dulu dia pernah mengutarakan kepada ibu tentang impiannya tersebut. tapi ibu memarahinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Saya tidak punya uang untuk menyokolahkan kalian !”. ketus ibu dengan nada yang cukup keras. Membuatnya tersentak. Lalu ibunya mengomel tanpa henti, ibu &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengeluarkan kata-kata &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;jorok tentang ayah, nenek, paman Husni, Om Razali, dan kakek yang telah memaksa ayah tuk meninggalkannya. Sejak kejadian itu, dia tidak pernah berbicara tentang serangam merah putih lagi pada ibu. Baginya, keinginan itu sejauh bintang yang sering ditatapnya saat malam sambil duduk di emperan toko.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Kak, ayo kita cari ibu, mungkin dia sudah pulang”. Ajakan Ani membuyarkan lamunan Ana tentang ibunya. Dia merangkul adiknya. Mereka berjalan menyusuri emperan toko yang telah sunyi. Bias cahaya bulan memantulkan bayangan mereka di jalan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Jam 23 menjelang tengah malam. Di depan pintu sebuah toko, Ana mendekati tumpukan kardus yang membentuk sebuah ruang persegi empat. Ibunya telah menyusun kardus-kardus yang didapatinya dari pasar tadi menjadi sebuah ruang untuk bermalam. Mungkin inilah rumah bagus yang ibu Ana katakan tadi. Dengan perlahan dia singkap salah satu celah. Ia melihat ibunya sedang tidur, ibu tidak menggunakan selimut. Baju merah darah dan celana jeans ketat putih masih melekat pada tubuhnya yang terlentang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Sambil menyilangkan satu jari diantara bibir mungilnya, Ana memanggil Ani yang terduduk di lantai emperan toko. Sepertinya Ani masih takut dimarahi ibu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Jangan berisik, nanti ibu bangun”. Ana mewanti adiknya,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Kamu masuk duluan ya !” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Tapi aku takut”. Balas Ani dengan wajah cemas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Setelah berada di dalam, Ani semakin takut mendengar ngorok ibunya yang keras. Ia memperhatikan wajah ibunya. Tapi yang dia dapati hanya sebentuk bayangan hitam yang merata. Ia gelisah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Sementara Ana mencoba menutup mata. Bayang-bayang tentang ibu terus menyiksanya. Ibu yang berubah pemarah, ibu yang menjadi centil, dandanan ibu yang menyolok. Juga ibu yang berubah kasar ke mereka. Tapi Ana tidak menemukan jawaban. Ana hanya ingat pada suatu sore di tahun 2000. saat nenek dan paman Husni mengunjungi rumah orang tua ibu yang juga neneknya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Kala itu nenek hanya membelai kepalanya dan menanyakan ibu. Ayahnya sudah satu bulan tidak pernah pulang. Ibu memberi tahu Ana bahwa ayah sedang kerja di luar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Setelah memanggil ibu, Ana kembali bermain dengan Ani dan teman-temannya di halaman depan. Tiba-tiba ia mendengar suara orang menangis. Ketika dia menoleh ke dalam, Ana melihat ibunya terduduk layu di lantai, sementara nenek dan &lt;st1:place st="on"&gt;Om&lt;/st1:place&gt; husni duduk dengan kepala tertunduk. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi. Didekatinya ibu yang sedang menangis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Mengapa ibu menangis”. Ana duduk dipangkuan ibu yang sedang terisak. Ibu membiarkan air matanya mengalir membentuk sungai kecil di pipinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Tanya nenek mu, nak”. Jawab Ibunya putus-putus.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Ana menoleh ke neneknya. Tapi nenek hanya diam, Ana berpaling ke arah Om Husni, Omnya itu juga diam. Ana ikut menangis. Belakangan diketahuinya Ani juga ikut menangis. Sementara nenek dan omnya telah keluar meninggalkan mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Malamnya, ia mendapati ibunya masih berbaring di ranjang, pertama disangka ibunya sedang tidur, tapi setelah didekati. Mata ibunya tidak terpejam. Ia hanya terbaring telentang, matanya menatap hampa ke langit-langit kamar yang telah dipenuhi sarang laba-laba. Cahaya dari lampu neon &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; watt membias di matanya yang basah. Kemudian Ana ikut berbaring disamping ibunya. Ia tidak mengaji malam ini. Biasanya ibu akan membantu mereka mengeja huruf arab dari sebuah kitab yang dibeli ayah di pasar. Ani telah tidur bersama nenek setelah sahalat insya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Saat pagi tiba, Ana tidak mendapati ibunya di sisi. Biasanya ibu ikut membangunkan dia saat bangun. Ia bergegas keluar kamar dan mencari ibu di halaman rumah. Tapi dia hanya mendapati sapu lidi yang masih bersandar pada tempatnya. Daun-daun jambu bercampur seulanga masih berserakan di halaman depan rumah. Ibu tidak menyapu pagi ini, padahal matahari telah melewati pohon jambu monyet yang berdiri kokoh di belakang rumahnya. Kemudian dia menuju sungai kecil yang mengalirkan air jernih. Tapi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dia tidak mendapati ibu dan Ani di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Kemana mereka pergi?, ia bertanya dalam hati. Ana terus memanggil ibunya. tapi tetap sunyi. Hanya kicauan burung kecil yang berisik dari dahan-dahan pohon di sekitar rumahnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Lelah menunggu, Ana baru melihat ibunya pulang bersama nenek diantar RBT*. Dia langsung memeluk ibunya, tapi ibu menepis pelukannya. Serta merta ibunya masuk ke dalam dan mengurung diri di kamar. Ana menangis pada neneknya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Kenapa Ibu, Nek?”. Tanya Ana sambil menangis&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Ibu mu lagi sakit”. Neneknya menjawab sambil menyapu air mata yang menetes di pipi Ana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Hingga malam tiba, Ana tidak melihat ibunya keluar dari kamar. Ani telah menangis-nangis memanggil ibunya. tapi Inur tidak juga keluar. Nenek mereka telah membujuk. Inur tetap bisu di kamarnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Pagi, Ana mengusap matanya, suara riuh di luar telah membangunkan dia dari mimpi yang dialaminya. Dengan perlahan dia melangkah keluar. Ia melihat Ibunya sedang menari. Tapi ada yang berbeda. Ibunya menggunakan mukena putih dan celana jean yang juga putih. Ibu mulai memutarkan tubuhnya, kencang sehingga membuat mukena yang dipakainya mulai terangkat membentuk lingkaran putih yang berputar dan melambai. Tepuk tangan dan siulan orang-orang yang menyaksikannya semakin ramai.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Ayo yang kencang lagi!”. teriak salah satu dari mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;Inur semakin mempercepat gerakan berputarnya. Tiba-tiba Ana tidak percaya pada penglihatannya. Inur tidak menggunakan apa-apa di balik mukena. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt; line-height: 150%;"&gt;“Ibu …”. Teriak Ana keras. Inur menghentikan gerakannya. Dia tersenyum melihat Ana. Inur menjulurkan tangannya. Ana menggeleng. “Ayo menari, atau kamu ku pukul !”. Inur mulai marah. Ana menggeleng dan mulai berlari. Inur mengejarnya. Ana tetap berlari. Kencang, dia tidak peduli lagi pada ibunya. Dan tak lama… suara meretak setelah bunyi rem dirasakan Ana. Dia rubuh, dia melihat air mata di pipi ibunya. tapi sepi dia tidak mendengar apa-apa dan kemudian gelap. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8421461617880950012-5209539526118486776?l=atadere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/5209539526118486776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8421461617880950012/posts/default/5209539526118486776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atadere.blogspot.com/2008/04/ibu-kaki-lima.html' title='Ibu Kaki Lima'/><author><name>Arif Surahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04432224944326780848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
