Sabtu, 09 Agustus 2008

Malam di Kota Bandar


Senja baru rebah di kota Bandar, ibu kota Pemerintah Aceh. Jumat lalu, 1 Agustus 2008, suasana sesak terlihat di sepanjang ruas jalan Tgk Daud Beureueh hingga TA Mahmudsyah. Mobil-mobil merangkak pelan di antara sepeda motor. Akhir pekan, jalan-jalan utama kota Banda Aceh selalu sesak.
 
Daud Beereueh tidak istirahat, selepas gaung azan magrib dari menara Mesjid Raya Baiturrahman, dentuman musik keluar dari sound-sound kedai tengger penjual burger . 

Di bawah rindang pohon jalan, lampu neon selaksa warna menjadi penghias sendiri, menghibur sejumlah pemuda yang sedang berkumpul. “Malam Sabtu hingga Minggu memang selalu ramai,” kata Arif Hidayat, pemilik warung H & D Burger. 

Arif belum lama bergelut dalam bisnis burger, pemuda itu tertarik mencoba bisnis makanan khas dari Amerika Serikat itu setelah mendapat tawaran dari seorang kawan. “Ini bisa kerja part time, saya buka mulai jam 17.30 hingga pukul 00.00 WIB,” cerita Arif. 

Namun pada Jumat malam itu, sound system milik Arif mandek, musik tidak berdentum, sehingga hanya beberapa pasangan saja yang terlihat sedang berbincang mesra. 

Selain H & D Burger, sejumlah otlet burger lain juga berjejer di sepanjang jalan yang namanya diambil dari tokoh kharismatik dan pejuang Aceh, Tgk Muhammad Daud di Bereueh. kebanyakan pelanggan di kedai-kedai tengger itu adalah anak muda usia sekolah hingga mahasiswa. “Masing-masing sudah punya pelanggan sendiri,” kata Oki, dari Obelix Burger. 

Di Banda Aceh, warung-warung burger tersebar di sejumlah tempat. Selain di Jalan Daud Beureueh, Nyak Adam Kamil, T Nyak Arief, beberapa ruas jalan di Keutapang, Lamlagang, Beurawe, Darussalam hingga Ulee Kareng. 

Harga burger berkisar dari Rp5000 hingga Rp12 ribu. Selain burger, menu lain juga ditawarkan seperti omelet, roti bakar dan sosis dengan minuman botol dan kopi.

Kedai burger menjadi tempat hiburan alternatif, selain ajang mencari pasangan atau berpacaran. “WH (Wilayatul Hisbah -red) tidak menangkap orang pacaran di sini, sebab suasana tempatnya ramai," ujar Evi, pelajar salah satu SMU di Banda Aceh. 

Kaum muda di Kota Bandar memang haus hiburan. Sejak pemerintah menerapkan syariat Islam di Aceh, ruang gerak masyarakat dalam mencari hiburan ala metropolitan praktis tidak tersedia. Tidak ada diskotek atau bar di Aceh. Tempat-tempat hiburan yang disediakan beberapa pusat perbelanjaan tidak mencukupi. “Di Aceh tidak ada tempat hiburan, kita kadang suntuk tak tahu ke mana,” kata Fajar, kekasih Evi.

Bioskop-bioskop juga praktis tutup sejak tahun 2000 lalu. Mereka yang haus hiburan tapi bermodal banyak, lebih suka mencari hiburan dan membelanjakan uangnya di kota Medan atau Jakarta.

Pemuda Aceh yang ingin gaul dan melepaskan penat cukup kongkow bersama teman atau kerabat di kedai yang tersebar di pinggiran jalan. Buktinya, tak sedikit kalangan muda termasuk yang masih duduk di bangku sekolah atau ABG, memilih kedai burger sebagai tempat bergaul dan bercerita. 

Mengisi masa remaja yang konon indah di kota penat, di mana penduduknya tak punya pilihan, menentukan hiburan akhir pekan.

Arif Surahman