Rabu, 09 April 2008

Ibu Kaki Lima


Dia duduk bersandar di depan sebuah toko, ia menatap pada roda-roda kendaraan yang berputar di jalan raya. Di sisi kanannya, sebatang piano disandarkan berdiri, tut-tut piano sebagian telah ompong terkelupas. Dua orang bocah perempuan saling berbisik di hadapannya.

Tiba-tiba perempuan itu seperti tersadar, tangannya cepat menyusup ke saku depan celana putih yang dikenakan. Beberapa lembar uang seribuan terjatuh ke lantai. Dia terus merongoh ke saku yang lain. Entah apa yang dia cari. Tiba-tiba dia meraung keras. seperti kor sepuluh ambulan yang tergesa mengantar orang sekarat. Orang-orang di jalan berhenti tuk melihatnya. Tapi dia tetap meraung. “Uangku, uangku, uangku !, anak sialan, kemana kalian?. Kembalikan uang ku !”. Teriakannya berubah isakan. orang-orang kembali melanjutkan perjalanan. ada yang heran, ada yang iba, ada juga yang menyebutnya gila.

Seharian Inur telah berjalan mengitari kota, manelusuri setiap gang, mendatangi setiap pintu toko. Menyungging senyum menggoda di sela jeda lagu yang dinyanyikan. Suaranya sumbang, sesekali ia membuat desahan seperti perawan yang sedang bermain penuh perasaan. Tangannya menekan tut-tut keyboard. Nada yang lahir ikut meliukkan tubuhnya, memutarkan pinggulnya seperti roda gerobak yang melintasi jalan berbatu. Dia tidak akan berhenti sebelum pemilik toko melemparkan lembaran uang ribuan ke kotak lusuh yang disodorkan dua perempuan kecil. Biasanya para pemilik toko akan menyuruhnya menari dengan berbagai gaya.

“kamu bisa gaya monyet?” tanya seorang pemiliki toko yang masih muda.

“yang seperti ini?” Inur mempraktekkan seekor kera betina yang sedang menggaruk gatal di kepala dan dada. Orang yang menyaksikan atraksinya akan tertawa dan bertepuk tangan. Riuh, Inur tersenyum, melambai tangan, membungkuk, dan tak lupa mengucapkan terimakasih. Dia bergaya layaknya penyanyi di atas panggung yang mengucapkan salam kepada para fansnya yang bersorak histeris. Inur senang, sementara kedua gadis kecil yang mengikutinya hanya bingung. Tak mengerti apa yang membuat ibu mereka begitu riang.

Malam mulai jatuh, kesibukan pasar beranjak sepi. Satu persatu toko mulai menutup dagangannya. Dengan memanfaatkan sinar lampu dan cahaya bulan, Inur mondar mandir mencari kotak-kotak kardus yang tercecer di sepanjang gang toko. Dia memilih kardus ukuran besar untuk dijadikan alas tidur. Kedua anaknya, Ana dan Ani ikut mencarikan kardus untuknya. Kebiasan menjelang malam yang kerap dilakukan mereka menjelang tidur.

“Kita akan membuat rumah yang besar malam ini, coba cari di ujung sana !”. perintah Inur pada Ana.

Ana berjalan ke arah yang yang ditunjuk ibunya. Matanya mengamati ke setiap tumpukan kardus yang tersusun di depan pintu toko. Satu demi satu dia periksa, namun semuanya berisi. Dia tidak berani mengosongkan isi yang ada dalam kardus. Pikiran kecilnya berkata jangan. Dia takut ditangkap polisi jika besok pemiliknya melaporkan mereka telah mencuri.

“Kak, cari aku !”, teriak Ani dari salah satu lorong yang gelap.

Serta merta Ana bergerak menuju arah suara yang memanggilnya, dia tinggalkan kardus yang sempat membuatnya berpikir keras. dengan lagak seperti pengintai, dia melambankan langkahnya. Menjingkrak dengan pelan dan …

“Hap, dapat “ pekik Ana menangkap Ani yang memberontak melepaskan pelukan kakaknya. Galak tawa pun terdengar.

“Eh, ibu mana?” tanya Ani merasa resah saat matanya tidak lagi melihat bayangan ibu.

“Gak tahu, tadi dia di sana”, jawab Ana sambil menunjuk ke arah depan salah satu toko. Kedua bocah perempuan itu saling memandang. Ani tampak gelisah. “Ibu kok tidak mengajak kita ya ?, jangan-jangan dia marah lagi”. keluh Ani. Dia takut kalo ibunya marah, dia tidak mau dipukul ibu seperti tadi sore karena mengambil uang. Sedang Ana terlihat tenang, dia sedikit lebih dewasa mengerti kondisi ibunya yang kadang sering marah-marah. Ana bahkan merasa sangat malu kalau orang-orang melihat ibunya yang sedang diamuk amarah.

Dia merasa akhir-akhir ini ibunya lebih sering mengamuk dan hilang kendali. Ia juga heran dengan penampilan ibunya sekarang yang cukup berbeda dari beberapa bulan yang lalu.

Tadi pagi, sebelum berangkat, ia melihat ibunya begitu berbeda. Ibu menggunakan celana panjang ketat. Likuk pinggul dan pahanya tercetak jelas, bahkan celana dalam merah jambu ibu terlihat samar menembus celana jeans putih yang dikenakannya. Pun juga setelan baju yang digunakan. Karena begitu katat, dada ibu terlihat membusung seperti dua kura-kura yang sedang beristirahat dalam batoknya. Banyak pemuda dan orang tua yang bersuit nakal ketika mereka lewat. Mungkin karena pakaian ibu yang seperti itu membuat mereka ditahan dan diangkut oleh pasukan berseragam hijau yang sedang melakukan razia pada Jumat itu.

Ketika berada di kantor yang di dindingya banyak tulisan arab, ibu hanya diam dan sesekali tertawa mendengar arahan dari bapak berpeci putih. Ana baru mengerti kalo cara berpakaian ibu telah melanggar peraturan syariat islam. Sebuah peraturan baru yang mulai diterapkan di Aceh setelah Pak Presiden Abdurrahman Wahid mensahkan Undang-undang baru tentang Otonomi daerah Aceh.

Setelah dua jam mendengar ceramah dari Ustad Yasa, mereka dibolehkan pulang dengan syarat Inur tidak lagi memakai celana jeans dan baju ketat. Dalam perjalanan pulang, Inur banyak mengomel.

“Manusia sok suci!”. Umpatnya. “persyetan semua… siapa yang peduli?!, enak saja mengatur aku”. Ana dan adiknya hanya bisa mengikuti dari belakang. Ia kadang sering membuang muka saat berpapasan dengan anak yang seusianya.

Melihat anak-anak itu, Ana juga ingin menggunakan seragam merah putih seperti mereka. Dulu dia pernah mengutarakan kepada ibu tentang impiannya tersebut. tapi ibu memarahinya.

“Saya tidak punya uang untuk menyokolahkan kalian !”. ketus ibu dengan nada yang cukup keras. Membuatnya tersentak. Lalu ibunya mengomel tanpa henti, ibu mengeluarkan kata-kata jorok tentang ayah, nenek, paman Husni, Om Razali, dan kakek yang telah memaksa ayah tuk meninggalkannya. Sejak kejadian itu, dia tidak pernah berbicara tentang serangam merah putih lagi pada ibu. Baginya, keinginan itu sejauh bintang yang sering ditatapnya saat malam sambil duduk di emperan toko.

“Kak, ayo kita cari ibu, mungkin dia sudah pulang”. Ajakan Ani membuyarkan lamunan Ana tentang ibunya. Dia merangkul adiknya. Mereka berjalan menyusuri emperan toko yang telah sunyi. Bias cahaya bulan memantulkan bayangan mereka di jalan.

Jam 23 menjelang tengah malam. Di depan pintu sebuah toko, Ana mendekati tumpukan kardus yang membentuk sebuah ruang persegi empat. Ibunya telah menyusun kardus-kardus yang didapatinya dari pasar tadi menjadi sebuah ruang untuk bermalam. Mungkin inilah rumah bagus yang ibu Ana katakan tadi. Dengan perlahan dia singkap salah satu celah. Ia melihat ibunya sedang tidur, ibu tidak menggunakan selimut. Baju merah darah dan celana jeans ketat putih masih melekat pada tubuhnya yang terlentang.

Sambil menyilangkan satu jari diantara bibir mungilnya, Ana memanggil Ani yang terduduk di lantai emperan toko. Sepertinya Ani masih takut dimarahi ibu.

“Jangan berisik, nanti ibu bangun”. Ana mewanti adiknya,

“Kamu masuk duluan ya !”

“Tapi aku takut”. Balas Ani dengan wajah cemas.

Setelah berada di dalam, Ani semakin takut mendengar ngorok ibunya yang keras. Ia memperhatikan wajah ibunya. Tapi yang dia dapati hanya sebentuk bayangan hitam yang merata. Ia gelisah.

Sementara Ana mencoba menutup mata. Bayang-bayang tentang ibu terus menyiksanya. Ibu yang berubah pemarah, ibu yang menjadi centil, dandanan ibu yang menyolok. Juga ibu yang berubah kasar ke mereka. Tapi Ana tidak menemukan jawaban. Ana hanya ingat pada suatu sore di tahun 2000. saat nenek dan paman Husni mengunjungi rumah orang tua ibu yang juga neneknya.

Kala itu nenek hanya membelai kepalanya dan menanyakan ibu. Ayahnya sudah satu bulan tidak pernah pulang. Ibu memberi tahu Ana bahwa ayah sedang kerja di luar kota.

Setelah memanggil ibu, Ana kembali bermain dengan Ani dan teman-temannya di halaman depan. Tiba-tiba ia mendengar suara orang menangis. Ketika dia menoleh ke dalam, Ana melihat ibunya terduduk layu di lantai, sementara nenek dan Om husni duduk dengan kepala tertunduk. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi. Didekatinya ibu yang sedang menangis.

“Mengapa ibu menangis”. Ana duduk dipangkuan ibu yang sedang terisak. Ibu membiarkan air matanya mengalir membentuk sungai kecil di pipinya.

“Tanya nenek mu, nak”. Jawab Ibunya putus-putus.

Ana menoleh ke neneknya. Tapi nenek hanya diam, Ana berpaling ke arah Om Husni, Omnya itu juga diam. Ana ikut menangis. Belakangan diketahuinya Ani juga ikut menangis. Sementara nenek dan omnya telah keluar meninggalkan mereka.

Malamnya, ia mendapati ibunya masih berbaring di ranjang, pertama disangka ibunya sedang tidur, tapi setelah didekati. Mata ibunya tidak terpejam. Ia hanya terbaring telentang, matanya menatap hampa ke langit-langit kamar yang telah dipenuhi sarang laba-laba. Cahaya dari lampu neon lima watt membias di matanya yang basah. Kemudian Ana ikut berbaring disamping ibunya. Ia tidak mengaji malam ini. Biasanya ibu akan membantu mereka mengeja huruf arab dari sebuah kitab yang dibeli ayah di pasar. Ani telah tidur bersama nenek setelah sahalat insya.

Saat pagi tiba, Ana tidak mendapati ibunya di sisi. Biasanya ibu ikut membangunkan dia saat bangun. Ia bergegas keluar kamar dan mencari ibu di halaman rumah. Tapi dia hanya mendapati sapu lidi yang masih bersandar pada tempatnya. Daun-daun jambu bercampur seulanga masih berserakan di halaman depan rumah. Ibu tidak menyapu pagi ini, padahal matahari telah melewati pohon jambu monyet yang berdiri kokoh di belakang rumahnya. Kemudian dia menuju sungai kecil yang mengalirkan air jernih. Tapi dia tidak mendapati ibu dan Ani di sana. Kemana mereka pergi?, ia bertanya dalam hati. Ana terus memanggil ibunya. tapi tetap sunyi. Hanya kicauan burung kecil yang berisik dari dahan-dahan pohon di sekitar rumahnya.

Lelah menunggu, Ana baru melihat ibunya pulang bersama nenek diantar RBT*. Dia langsung memeluk ibunya, tapi ibu menepis pelukannya. Serta merta ibunya masuk ke dalam dan mengurung diri di kamar. Ana menangis pada neneknya.

“Kenapa Ibu, Nek?”. Tanya Ana sambil menangis

“Ibu mu lagi sakit”. Neneknya menjawab sambil menyapu air mata yang menetes di pipi Ana.

Hingga malam tiba, Ana tidak melihat ibunya keluar dari kamar. Ani telah menangis-nangis memanggil ibunya. tapi Inur tidak juga keluar. Nenek mereka telah membujuk. Inur tetap bisu di kamarnya.

Pagi, Ana mengusap matanya, suara riuh di luar telah membangunkan dia dari mimpi yang dialaminya. Dengan perlahan dia melangkah keluar. Ia melihat Ibunya sedang menari. Tapi ada yang berbeda. Ibunya menggunakan mukena putih dan celana jean yang juga putih. Ibu mulai memutarkan tubuhnya, kencang sehingga membuat mukena yang dipakainya mulai terangkat membentuk lingkaran putih yang berputar dan melambai. Tepuk tangan dan siulan orang-orang yang menyaksikannya semakin ramai.

“Ayo yang kencang lagi!”. teriak salah satu dari mereka.

Inur semakin mempercepat gerakan berputarnya. Tiba-tiba Ana tidak percaya pada penglihatannya. Inur tidak menggunakan apa-apa di balik mukena.

“Ibu …”. Teriak Ana keras. Inur menghentikan gerakannya. Dia tersenyum melihat Ana. Inur menjulurkan tangannya. Ana menggeleng. “Ayo menari, atau kamu ku pukul !”. Inur mulai marah. Ana menggeleng dan mulai berlari. Inur mengejarnya. Ana tetap berlari. Kencang, dia tidak peduli lagi pada ibunya. Dan tak lama… suara meretak setelah bunyi rem dirasakan Ana. Dia rubuh, dia melihat air mata di pipi ibunya. tapi sepi dia tidak mendengar apa-apa dan kemudian gelap.