Rabu, 09 April 2008

Seramoe Kamoe Nyoe

menulis Aceh adalah membuka kembali lembaran yang tertoreh dengan darah, lalu membacanya dengan linangan air mata.

beribu prahara telah terjadi disini, dalam ketidak mengertian, kita terpaksa melakoninya

Perjalanan Berdarah

jika Anda bertanya apa yang membuat orang Aceh begitu bangga dan tetap tegar dengan apa yang dibanggakan itu. Tentu jawabnya tidak terlepas dari sejarah kejayaan Aceh yang pernah gemilang pada jaman Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636). Kenangan ini bisa sedikit menegakkan kepala, karena apa yang terjadi setelah kilau emas tersebut adalah keterpurukan yang akan merundukkan kepala, hati nurani, dan rasa kemanusiaan kita sebagai manusia.

Ironis, negeri yang kaya raya dengan hasil alam melimpah, tapi masyarakatnya tidak pernah dapat mencicipi apa yang seharusnya didapatkan. Perjalanan Aceh setelah kejayaannya adalah perjalanan yang tidak hanya menguras peluh dan tenaga. Tetapi darah, air mata, menjadi teman yang mengiring langkah dalam ukiran sejarah.

Patriotisme masyarakat Aceh dalam perjuangan melawan penjajahan bangsa asing telah mengukir sejarah tersendiri. Perjuangan melawan Belanda adalah hikayat patriotisme yang tidak terkalahkan, karena Belanda sama sekali tidak bisa menguasai daerah Aceh sepenuhnya. Perjuangan panjang yang mengorban banyak jiwa, harta benda telah membawa pengakuan ketangguhan bangsa Aceh dalam semangat mempertahankan marwah dan kebesaran nama Aceh. Pada akhirnnya semangat persaudaraan yang tinggi sesama bangsa yang pernah melawan penjajahan, Aceh menggabungkan diri dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sungguh sayang, niat tulus tersebut harus membawa kecewa besar bagi rakyat Aceh, sebelum peluh dan darah mengering selama perjuangan melawan penjajahan. Aceh harus kembali melawan pengkhianatan Indonesia. Status Aceh dan janji muluk yang pernah ditawarkan Indonesia hanya menjadi simbol manis semata, karena pada prakteknya Indonesia sama sekali tidak pernah menghargai bangsa Aceh. Bahkan dengan egonya yang tinggi, Indonesia bertekat melawan pemberontakan rakyat Aceh yang telah diciptakan oleh Indonesia sendiri lewat pemerintahan negatif pusat yang arogan dan rakus. Hasilnya puluhan ribu jiwa orang tidak berdosa melayang, kultur budaya asli pudar, kehidupan sosial masyarakat Aceh bergeser jauh dari ke Acehan akibat dari militerisme yang ditanamkan Indonesia selama konflik berlangsung.

Pemberontakan Rakyat Aceh ditanggapi Indonesia dengan janji-janji gombal yang tidak pernah direalisasikan. Para pejabat pemerintah pusat hanya bisa berdansa diatas manyat-manyat rakyat Aceh yang tumbang oleh kekuasaan negatif yang diterapkan semasa pemerintahan ORLA dan ORBA. Mimpi untuk dapat hidup damai hanya mimpi yang bertepuk sebelah tangan. Badai angkara belum juga reda. Dan Indonesia melalui pemerintahan-pemerintahnya (Habiebi, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri) yang berkuasa, tetap hanya bisa memberikan pelurunya untuk rakyat Aceh.

Kesempurnaan Sebuah Derita

Setelah puluhan tahun lebih masyarakat Aceh memendamkan air mata, perih atas pengkhianatan, trauma, dan mungkin juga dendam. Hingga pada akhir tahun 2004, alam seperti gusar terhadap kenyataan yang terjadi di seramoe kepedihan. Gempa bumi yang disusul dengan gelombang tsunami telah menyapu seluruh kawasan pesisir Aceh. Ribuan korbanpun kembali berjatuhan, Aceh kembali menangis. Masyrakat Aceh di bawah tenda-tenda pengungsian meratapi nasib negeri yang malang.

Dan dalam kepasrahan terhadap nasib, Aceh hanya mampu menatap uluran tangan bangsa-bangsa lain yang mencoba membantu menegakkan kembali kepala rakyat Aceh yang merunduk. Dengan separoh keraguan dari pengalaman silam yang menyakitkan. Aceh mencoba berdiri dan berdiri, meski nanah masih ada dari sisa-sisa perjalanan yang melelahkan, hampir akal waras hilang dalam menggambarkan Aceh. Karena sampai sekarang, Masyarakat Aceh tidak menjadi diri mereka sendiri di tanah moyang. Kajayaan dulu menjadi kenangan terindah dalam sedih yang usai…